Generasi Millennials dan Maraknya Komentar Jahat di Media Sosial

“Sudah gendut, jelek, narsis lagi. Jijik.”

“Orang seperti ini lebih baik musnah sajalah,”

“Sampah masyarakat, tidak berguna, lebih baik mati saja.”

Merasa familiar dengan komentar-komentar seperti itu? Di era serba teknologi seperti sekarang, rasanya sering sekali kita menemukan perkataan jahat dan penuh kebencian dari dan untuk orang yang tidak saling mengenal di dunia maya. Kadang kita sampai bertanya-tanya, apa sih yang pernah mereka lakukan terhadap orang itu? Kok, komentarnya jahat sekali.

Ada beragam komentar jahat yang mudah sekali kita jumpai di dunia maya. Ada yang mengejek penampilan, menyindir, bahkan sampai menginginkan orang tersebut mati atau dibuang saja. Wah, komentarnya seperti tidak mengenal ampun. Sungguh miris membacanya.

Menurut pendataan dari Laporan Tetra Pax Index 2017, 132 juta masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet, dan terdapat 106 juta masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial. Angka yang fantastis sehingga membuat Indonesia menempati peringkat ke 8 pengguna media sosial terbanyak di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan internet dan media sosial.

Media sosial tentu saja memiliki manfaat yang baik. Kita bisa mempererat hubungan kita dengan orang lain, bisa melihat posting-an yang bermanfaat, menghibur, dan lain-lain. Namun di sisi lain, sejak munculnya media sosial, tidak bisa diingkari bahwa muncul juga masalah-masalah sosial yang baru. Salah satunya, cyber-bullying, yaitu mem-bully dengan membuat posting-an yang menjelek-jelekan target atau dengan cara lain melalui media sosial. Hal ini merupakan masalah yang sama sekali tidak boleh dianggap remeh, karena telah memakan jiwa. Bentuk cyber-bullying yang pasti kita temui ketika menelusuri media sosial, salah satunya yaitu komentar jahat.

Pendapat Pakar

Apa yang dimaksud dengan komentar jahat? Taufan Teguh Akbari, M.Si, Dean dari Business Studies LSPR Jakarta dan Founder Rumah Millennials menyebutkan komentar jahat adalah komentar yang sengaja ditujukan kepada target untuk merendahkan harga diri target tersebut dan untuk menjatuhkan secara psikis. Menurutnya, komentar jahat memang digunakan untuk menghina, merendahkan, membuat orang atau tujuan target bully merasa sakit.

“Bentuk dari komentar jahat bisa berupa ejekan, hinaan, label-label negatif, sesuatu yg terkait dengan harga diri misalkan murahan, SKSD, sok gaul, sok cantik, muka operasi plastik, dan lain-lain yg memang sengaja, yang sifatnya untuk menjatuhkan,” papar pria yang juga merupakan dekan dan dosen penuh waktu di kampus LSPR Jakarta ini.

Kehadiran media sosial mengubah gaya komunikasi orang Indonesia yang tadinya high context menjadi low context. Gaya berkomunikasi orang Indonesia dulu, pesan bersifat implisit, disampaikan secara tidak langsung dan dibungkus dengan basa-basi. Bahkan dalam kondisi marah pun, kata-katanya masih diatur sedemikian rupa. Tapi sekarang, sejak media sosial naik daun, gaya berkomunikasinya berubah 1800. Banyak orang merasa ia bisa mengatakan apapun yang ia mau tanpa diketahui oleh target bully dan orang banyak, bahkan perkataan kasar dan tidak pantas seperti kebun binatang, penghinaan, mengutuk, dan lain-lain. Perkataannya straight to the point, tanpa difilter, karena merasa tidak ada yang melihat dan merasa aman.

Lalu mengapa orang-orang paling suka menggunakan media sosial untuk melontarkan komentar-komentar jahat? Penyebabnya, menurut Taufan, karena media sosial adalah tempat yang paling nyaman untuk mengutarakan komentar jahat tanpa diketahui langsung oleh si penerima. Sama seperti ibaratnya surat kaleng, orang-orang merasa nyaman memberi komentar jahat lewat akun palsu atau anonim di media sosial karena merasa identitasnya tidak diketahui oleh target. Taufan menilai, dengan adanya media sosial, pem-bully sebenarnya semakin menjadi, karena merasa dirinya aman dan tidak harus diketahui langsung oleh target.

Sebagian orang berpikir bahwa komentar jahat lebih tidak berpengaruh dibandingkan melontarkannya face-to-face. Ah, orang yang membaca juga pasti cuma menganggap angin lalu. Namun, benarkah seperti itu? Sebuah fakta mengejutkan yang diutarakan Co-Founder Inspirasi Dosen ini, ternyata dampak komentar jahat melalui media sosial justru lebih besar dibandingkan yang diutarakan secara langsung di depan muka.

“Karena hal itu (komentar jahat) terekam dengan baik, ter-record dengan baik, dan bisa dilihat oleh banyak orang,” tegasnya. Hal ini dapat menyebabkan korban sampai bunuh diri karena stress, karena ia sadar bahwa dirinya dihina di depan banyak orang. Teman-teman, keluarga, dan orang lain yang seharusnya tidak tahu perbuatannya, jadi tahu, dan ada tekanan sosial di situ. Itulah yang menyebabkan orang menjadi stress dan mengalami efek yang lebih dalam dibandingkan bullying secara verbal.

Bagaimana Seseorang Bisa Menjadi Target Komentar Jahat?

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang menjadi target komentar jahat. Kasus yang sering dilihat oleh Taufan, yaitu masalah hubungan asmara. Misalkan ada laki-laki yang diidolakan di satu sekolah atau kampus, dan ada satu anak perempuan yang dekat dengan laki-laki tersebut. Kemudian teman-teman di sekitarnya tidak suka, dan dikirimkanlah ancaman-ancaman dan komentar-komentar yang menjatuhkan dan menyebabkan psikis anak ini sakit dan rusak hubungannya dengan laki-laki tersebut.

Selain itu, target komentar jahat biasanya seseorang yang memoles make-up berlebihan, fashion yang lebay, terlalu narsis di media sosial, pencitraan, pamer barang-barang branded, overexposed, dan lain-lain. Faktor fisik juga dapat menjadi alasan orang dihujani komentar-komentar jahat, seperti terlalu kurus, terlalu gendut, terlalu jelek, dan – percaya tidak percaya – terlalu cantik.

Bagaimana kalau dari sisi pemberi komentar jahatnya sendiri? Apa yang membuat mereka dengan mudahnya melakukan hal itu?

“Netizen merasa aman karena dirinya tidak diketahui oleh korban, dan tidak sadar bahwa hal itu merugikan orang lain,” ujar Taufan. Ia melanjutkan, sebenarnya hal ini bisa dituntut atas pencemaran nama baik dan hate speech, dan bisa dipidanakan karena UU ITE atau Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

UU ITE adalah ketentuan yang mengatur perlindungan hukum atas segala kegiatan yang dilakukan melalui media internet. Memberikan komentar jahat dapat dijerat UU ITE pasal 27 tentang pembuatan dan pendistribusian konten yang menghina dan mencemari nama baik, serta memeras dan mengancam. Anak-anak muda yang sudah terinformasi dengan baik akan lebih berhati-hati dalam mengutarakan pikirannya, sedangkan yang belum terinformasi akan masih merasa bebas untuk memberikan komentar semaunya, dan bisa saja dituntut oleh target.

Seperti kata Anna Maria Chavez, seorang inspirational speaker dan community leader, “Cyber bullies dapat bersembunyi di balik topeng dengan anonimitas online, dan tidak memerlukan akses fisik secara langsung kepada korban-korbannya untuk melakukan kejahatan yang tidak terbayangkan.”

Penyebab lain seseorang memberikan komentar jahat adalah karena merasa tersaingi, tidak secure, merasa terancam, atau merasa korban bully-nya tidak pantas.

“Biasanya karena ia merasa terancam, sehingga melakukan tindakan reaktif berupa bully,” kata Taufan.

Perspektif dan cara memandang seseorang juga berpengaruh dalam membentuk kebiasaan suka memberikan komentar jahat. Selebritis, public figure, politisi, dan orang-orang yang sering menjadi objek sorotan media cenderung dipandang sebagai objek dan bukan subjek. Maksudnya, masyarakat jadi menyamakan orang tersebut dengan barang yang dengan mudahnya dinilai dan dihakimi.

Kita menilai dan menghakimi benda setiap saat. Vas ini jelek, tidak layak untuk diberi harga segitu. Bangku ini jelek, dibuang saja. Hal itu bukan hal yang salah, namun akan menjadi salah jika kita memberi penilaian seperti itu kepada manusia.

Dampak Komentar Jahat dan Cara Menanganinya

Lebih jauh, Taufan memaparkan dampak-dampak komentar jahat bagi penerimanya. Dengan sangat serius, ia mengatakan bahwa seseorang yang menjadi target komentar-komentar jahat, akan mengisolasi diri sebagai akibatnya.

“Sampai beberapa kasus ia (korban) berhenti dari sekolah, pindah sekolah, murung, tidak mau makan, anoreksia, bunuh diri, dan trauma yang dalam sehingga ia takut membuka pertemanan, sekaligus membuat dia menjadi introvert,” paparnya.

Sementara itu, dalam jangka panjang, korban dapat menderita bipolar, seperti beberapa artis. Bipolar adalah kondisi di mana pada satu waktu emosi seseorang dapat menjadi sangat bagus dan senang, namun sesaat kemudian emosinya drop sekali, menjadi murung, sedih, atau marah. Selain bipolar, korban dapat menderita psikosomatis (penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran sendiri), penyakit psikis, dan ketidakteraturan emosi.

Perilaku netizen yang suka memberikan komentar jahat dinilai sebagai penyakit atau isu sosial yang tidak bisa kita kontrol. Lebih dari 130 juta rakyat Indonesia sudah menggunakan smartphone, dan sudah terkoneksi satu sama lain. Celakanya, ujar Taufan, tidak semua berasal dari golongan yang intelektual, yang punya kontrol sosial, komunikasi yang baik, dan pola berpikir yang kritis.

Untuk menangani masalah ini diperlukan peranan institusi pendidikan, baik sekolah maupun universitas. Caranya dengan memberikan peraturan-peraturan yang ketat tentang perilaku bullying. Kalau ada tindakan bullying, misalnya, langsung dikeluarkan dari sekolah, di D.O, atau diskors. Kemudian memberikan edukasi dan pemahaman mengenai dampak bullying, dan membimbing pelajar agar tidak melakukan tindakan tersebut.

Ada beberapa tips untuk menghadapi komentar jahat jika kita yang menjadi korbannya. Tips ini dibagi menjadi dua aspek, yaitu aspek teknis dan non-teknis.

Aspek teknis dapat dilakukan dengan mematikan fitur komentar di media sosial kita. Ada beberapa kasus di mana untuk menekan social pressure, orang-orang mengunci fitur komentar, sehingga tidak ada komentar yang masuk. Yang kedua adalah dengan mem-block atau mem-filter orang yang memberikan komentar jahat. Yang ketiga, dengan me-lock atau mem-private akun kita, sehingga kita bisa menyeleksi teman yang dapat melihat postingan kita.

Dari non-teknis, kita harus belajar untuk merespon sesuatu dengan positif dan jernih, bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh seseorang karena memang perilakunya seperti itu. Belajarlah untuk menjadikan komentar jahat sebagai bahan reflektif terhadap kekurangan kita. Kalau kita cukup dewasa, pasti bisa berubah perlahan-lahan.

“Menurut saya, cara menanggapinya adalah dengan lebih dewasa, memaknai dengan framing yang lebih positif, dan stay cool,” nasihat Taufan. Tidak usah menanggapi dan meladeni komentar jahat, dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Ia pun menyarankan jika komentarnya sudah kelewat batas, laporkan saja ke polisi.

Dalam menghadapi masalah ini, peran keluarga sangat penting. Kedekatan dengan keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk kepercayaan diri seseorang, sehingga jika ada masalah atau konflik sebaiknya bicarakan langsung dengan keluarga. Masalah jauh atau dekat dengan orang tua tidaklah penting. Yang penting, bicarakan saja dahulu.

Katakan kepada orang tua bahwa kita sedang mengalami masalah, kondisi yang tidak enak karena teman-teman begini, dan kita memerlukan bantuan mereka. Orang tua yang baik pasti akan memberikan semangat dan motivasi.

“Jadi jangan lupa untuk bercerita dengan orang yang menurut kalian dekat dengan kalian. Itu penting sekali,” tegas Taufan.

Kata-kata yang jahat dapat berpengaruh sangat luas dalam kehidupan seseorang. Bukan hanya psikis orang yang bersangkutan yang tertekan, namun keluarga dan orang-orang yang menyayanginya pun akan terluka oleh komentar jahat itu. Masih ingat kasus di mana ayah seorang gadis yang mengaku menjadi anak Jenderal Polisi meninggal karena tidak tahan membaca komentar-komentar jahat netizen terhadap putrinya? Selain itu banyak kasus-kasus bunuh diri karena tidak tahan di-bully di media sosial. Kasus-kasus ini seharusnya sudah bisa menjadi pembelajaran bagi netizen bahwa perkataan, meskipun tertulis, dapat membunuh.

Inilah kelemahan kita sebagai manusia. Terkadang egois dan tidak memikirkan dampak perbuatan kita terhadap orang lain. Lebih lagi, jika kita tidak mengenal orang tersebut secara langsung, dan dia juga tidak tahu siapa kita. Akibatnya, kita jadi lebih mudah untuk mengejek, atau bersikap jahat terhadap dia di media sosial. Kita jadi lupa bahwa orang tersebut juga manusia, yang punya perasaan dan kehidupan.  Kadang kita lupa untuk menebarkan bibit-bibit kebaikan di dunia ini dan kita malah menyebarkan hal-hal yang berdampak buruk bagi orang lain.

Sebenarnya boleh kok, memberikan komentar dengan kritik yang membangun. Namun, perlu diingat, kita harus pandai-pandai membedakan mana komentar yang membangun dan mana komentar yang jahat. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, dan yang mereka perlukan adalah dukungan untuk kembali ke jalan yang benar. Bukan diserang dengan ujaran kebencian.

Sebelum kita mem-post sesuatu di dunia maya, ada baiknya dipikirkan dulu akibatnya. Apakah bersifat positif yang membawa kebaikan, atau sebaliknya bersifat negatif yang mencelakakan? Sebarkanlah kebaikan, bukan kebencian.

Sumber Gambar :

http://ampamilagrosa.com/wp content/uploads/2016/05/ciberacosoninos.jpg

http://s3.amazonaws.com/digitaltrends-uploads-prod/2017/07/45009248_ml.jpg

http://www.freedomlaw.com.au/wp-content/uploads/2015/10/o-FAMILY-PHOTO-TEEN-facebook-1170×658.jpg

Author :

Livia Alvina – Siblings Rumah Millennials (Konten – R & D)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *