8 Tips buat kamu pengajar dan pendidik generasi Millennials Zaman Now

8 Tips buat kamu pengajar dan pendidik generasi Millennials Zaman Now

RumahMillennials.com | “Kids Zaman Now” adalah mereka yang terdiri dari dua kelompok generasi yaitu Generasi Z yang lahir rentang tahun 1995-2010, saat ini berusia antara 7-22 tahun di 2017 dan ada dibangku sekolah dan kuliah tingkat S1 (di Indonesia).

Generasi Y (Generasi Milenial), generasi ini lahir sekitar 1981-1994, saat ini berusia 23 -36 tahun di 2017 dan mereka juga yang mendominasi usia kerja produktif diberbagai bidang industri.

Buat Anda yang saat ini menjadi guru atau dosen dari ‘siswa/mahasiswa zaman now’ tentunya hampir memiliki tantangan yang sama dalam mengajar dan membimbing mereka didalam kelas, sehingga para guru dan orang tua zaman VUCA (Violence, Uncertainty, Complexity and Anxiety) ini tidak merasa terasingkan bercengrama dan bersosialisasi dengan para “kids zaman now”, yang sesungguhnya sedang berlari cepat melesat bagaikan sinar laser dan kilatan petir.. Sebut saja beberapa sifat ‘anak zaman now’ didalam kelas yang menjadi keluhan pengajar masa kini..

“Cenderung malas membaca…kurang berpikir kritis…tingkat cuek yang tinggi, entah terhadap mata kuliah atau guru/dosennya..cepat bosan..kemampuan mendengar yang minim..mudah terganggu hal2 yang remeh..sulit fokus..dll…”

Beberapa hal berikut mungkin bisa membantu Anda bisa lebih mudah menjadi pengajar dan pendidik bagi millennials didalam kelas :

1. Pendekatan Personal (Engage Personal Emotion)

Pengajar/Guru harus extra sabar dan pandai berinteraksi dengan generasi ini (mungkin lebih kegenerasi Z). Luangkan waktu untuk sekedar bertanya hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadi mereka. Luang waktu apabila mereka ingin diskusi (jangan tutup pintu berteman dengan anak didik kita, kita ngga tau mereka akan jadi apa dimasa depan).

Perlakukan mereka sebagai orang dewasa, anak zaman sekarang resistensinya akan semakin  tinggi apabila ‘dibentak’ atau diperlakukan kasar. Jadilah teman diskusi dan orang tua kedua mereka.

2. They Need and like to listen a story! (Start your class with story that excited them)

Hal ini menjadi tantangan bagi pengajar, khususnya generasi X dan Boomers. Kecenderungannya millennials tidak harus selalu 100% disuapi dengan pelajaran teoritis. Mereka cenderung sudah pandai membaca dan punya wawasan yang luas. 360 Open Source.

Maka tidak jarang, para mahasiswa/ siswa zaman now lebih suka mengakses google untuk mencari informasi ketimbang bertanya kepada guru, dosen atau mungkin ke perpustakaan.

Untuk mengantisipasi hal ini, mulailah sesi kelas dengan membawakan satu cerita yang dapat menarik perhatian mereka (update, aktual, praktis, dekat dan berguna bagi mereka). Misal, sekedar nilai moral dari Inovasi seorang Elon Musk atau cerita dibalik pembuatan Iphone X yang sedang booming. Latih kekemampuan verbal dan intonasi Anda dalam membawakan suatu cerita.

Pertemuan berikut Anda bisa meminta gantian, giliran para murid yang bercerita apapun sebelum kelas dimulai. Engagement is very crucial in first 10 minutes!. Jadi kesimpulannyakita sebagai pengajar zaman now wajib update informasi 24/7.

3. Begin with End Mind (“Tell the Consequence” & Tell the ‘finish’ line)

Beberapa survey umum yang saya baca beberapa waktu ini, menyatakan bahwa hampir diatas 80% siswa/i zaman now belum tau sebenarnya makna pelajaran/belajar yang mereka ambil ketika bersekolah.

Belum tau arah masa depan mereka seperti apa, bahkan banyak yang salah jurusan gara-gara ikut trend atau teman.Makna belajar seakan tak ada tujuan, selain mendapatkan nilai  dan peringkat yang tinggi, bahkan mungkin hanya asal lulus saja. Faktor “WHY” perlu diperhatikan disini.

Sebagai pengajar masa kini, mulailah cerita ‘behind the scene’ & ‘future’ aspeknya seperti apa dari bahan ajar yang disampaikan. Berikan mereka (anak didik zaman now), gambaran masa depan ‘kenapa’ matematika/biologi/kimia/antropologi/sosiologi menjadi demikian penting untuk dipelajari.

Bahkan terkadang, mereka hanya perlu diarahkan agar ilmu yang sudah mereka miliki dari hasil pencarian sendiri itu mampu diterapkan dalam dunia nyata. Bagi Generasi Z (millennial zaman now), hasil akhir dan tindakan yang bisa membawa manfaat dianggap lebih penting daripada ‘sekumpulan fakta ilmu pengetahuan’. Oleh karena itu, dampingilah mereka agar tidak semakin tersesat, bukan malah sebaliknya!

4. Learn their Trend  (Film, Songs, Trending Tropics, ect)

Tidak ada salahnya mengikuti perkembangan tren hiburan ala zaman now, sekedar tengok #hashtag apa yang sedang hits, film, musik terbaru bahkan ‘feed’ apa yang sedang ramai dilini media sosial mereka, Mau tidak mau, suka tidak suka, nyaman tidak nyaman.

Pengajar dan pendidikan zaman now WAJIB update informasi! Bahkan bisa jadikan isu” yang dekat dengan anak didik menjadi bagian  dari tugas sekolah/kuliah mereka. Gunakan platform atau aplikasi yang ‘kekinian’ sehingga membuat suasana belajar lebih menantang dan menyenangkan, because “Doing is more important that knowing”.

Untuk itulah, pengajar melek digital (digital literate) sangat diperlukan oleh dunia pendidikan saat iniDi era sekarang guru tidak boleh merasa paling benar. Di sisi lain, sekolah perlu menjadi rumah kedua bagi siswa untuk membekali mereka di masa mendatang…

5. Open and start your class with ‘question’ and ‘discussion’

Mulailah sesi kelas dengan melemparkan berbagai pertanyaan yang terkait pelajaran atau non pelajaran. Sama halnya manusia lebih senang berbicara dibanding mendengar, anak didikpun lebih terbuka untuk ditanya dibanding bertanya.

Kemampuan bertanya sangat erat sekali dengan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kriris akan membaik seiring dengan seberapa kuat keinginan anak didik menyerap dan mengakses informasi seluas-luasnya.

Kita sebagai pendidik perlu bertindak sebagai ‘pemantik’ agar kemampuan berpikir kritis anak didik kita semakin baik dan dalam. Dengan bertanya, secara tidak langsung kita ‘memaksa’ anak didik kita untuk berpikir dan mengemukakan mendapat. Ketika sudah dibiasakan, maka ini akan menjadi semacam kebiasaan (habit) atau budaya (culture) didalam kelas. Ruang diskusi terbuka dan suasana belajar akan semakin kondusif.

Kalau sudah seperti ini, kelas akan cenderung lebih mudah untuk diarahkan ketahap selanjutnya. Sehingga, pendidik dan pengajar zaman now pun dituntut tidak hanya bisa memberi pelajaran tapi juga membuat bahan ajar dan menyediakan ruang bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar secara mandiri.

6. Give more “HOPE” and positive story/things about their future (Indonesia)

Seberapa sering kita memberikan ancaman dibanding harapan kepada anak didik kita? Kalau kita sadar bahwa, anak didik zaman now Indonesia telah banyak terpapar oleh berita negatif dan framing berita seakan bahwa terlalu banyak keburukan dibanding kebaikan disekitar mereka.

Lalu bagaimana dengan optimisme mereka ? Ketika kita sebagai pendidik yang katanya “corong informasi” lebih sering menakut nakuti dibanding memotivasi? Anak didik zaman now haus berita baik dan positif, dan sudah jadi kewajiban pendidik untuk menyebarkan harapan serta berita baik tentang Indonesia dan masa depan mereka.

Arahkan mereka membaca situs berita positif tentang berita baik tentang Indonesia, GNFI (Good News From Indonesia), misalnya. Ubah pendekatan dan lihatlah perbedaan yang terjadi.

7. LISTEN with Heart! Not just Hear..

Mendengarkan dengan sabar saat anak didik sedang berbicara atau bertanya merupakan salah satu fase pendewasaan sebagai seorang pendidik zaman now.

Siswa masa kiini juga cenderung kritis bertanya…. ”Siswa/I #ZamanNow (bila) disuruh melakukan X akan bertanya, kenapa mesti X ? Kita harus punya penjelasan yang jelas dan konkret.

Bukan kita saja yang ingin didengar sebagai pendidik, namun anak didikpun ingin perlakukan sama. Dengan menjadi pendengar yang baik, justru rasa hormat akan datang dengan sendiri. Terjadi mutual respect antara pengajar dan anak didik.

Pendidik zaman now diharapkan menjadi sahabat bagi anak didiknya, yang mampu mendengarkan dengan hati dan memahami situasi mereka GenZamanNow tidak lagi seorang anak didik yang bisa gampang diatur ini dan itu dengan sebuah paksaan atau bahkan ancaman. Namun, harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Listen and win their heart!

8. Create Collaboration—Not Confrontation

Colaboration Learning  merupakan gaya pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori belajar . Hubungan pendidik dan pengajar perlu dibangun dengan baik.

Kita tidak pernah tau nasib anak didik kita dimasa depan. Ubah pendekatan utamakan kerekatan. Perlebar ruang diskusi agar anak didik dapat membangun pengetahuannya melalui dialog, saling berbagai informasi antar siswa dan guru sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan mental pada tingkat tinggi.

Peran guru zaman now adalah sebagai ‘mediator’ dengan peran sebagai coach (pelatih), model (teladan) dan fasilitator. Peran pendidik dan pengajar dalam model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai mediator.

Guru zaman now menghubungkan informasi baru terhadap pengalaman siswa dengan proses belajar di bidang lain, membantu siswa menentukan apa yang harus dilakukan jika siswa mengalami kesulitan dan membantu mereka belajar tentang bagaimana caranya belajar.

Pengajar zaman now harus bisa menjadi role model dan berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan lokal, namun harus tetap terbuka dan memiliki pemikiran yang tidak konvensional. Selamat mengajar dan mendedikasikan diri sebagai pengajar yang teladan dan terdepan.. (Taufan)

True wisdom comes to each of us when we realize how little we understand about life, ourselves, and the world around usSocrates

Founder Rumah Millennials
Founder Indonesian Community Network
Inisiator Hari Komunitas Nasional (28 Sept)
Co-Founder Inspirasi Dosen
Dean of Business Studies LSPR Jakarta
Penulis Buku “Proud And Rise”
Former Mentor YOT (Young on Top Community)
Co Founder YOT Campus Ambassador
Youth Solidarity Maker & Connector
Youth Leadership Enthusiast

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *