Sebuah Pandangan Pemuda Inspirasi Aceh : Kepemimpinan &  Manajemen Generasi Millennials

Sebuah Pandangan Pemuda Inspirasi Aceh : Kepemimpinan &  Manajemen Generasi Millennials

Memasuki era digital abad 21 kemimpinan dihadapan pada generasi millennials.  Siapa mereka, ialah mereka kelahiran 1980-1994 yang saat ini berada pada usia 20-35 tahun. Saat ini dari 260 juta penduduk Indonesia, 81 juta merupakan generasi millennia. Tech-savvy, Narcissistic dan open minded merupakan karakter generasi millennials. Generasi millennia atau gen Y ini hidup dengan smartphone yang sudah terkoneksi 24 jam dengan internet sehingga mereka naturally  mahir dalam teknologi. Media sosial merupakan tempat mereka berinteraksi. Tidak salah apabila generasi ini cenderung narsis namun dibalik sifat tersebut mereka sangat flexible, creative and open minded. Untuk mengelola generasi millennials ini dibutuhkan manajemen dan kepemimpinan gaya baru yang mampu mengerakan generasi ini menjadi agen perubahan.

Bagaimana pengaruh generasi millennials tahun 2014, “Kekuatan utama recovery ekonomi Amerika dari harapan dan energi generasi millienia yang bekerja di garis terdepan industri manufaktur dan lab-lab kampus”- Barack Obama.  Untuk mampu memahami generasi millennials secara detail sebuah survey millennials branding and American Express (2017) menyebutkan 3 masalah utama yang dihadapi generasi millennials dibandingkan dengan generasi baby boomer dan generasi X. 1. Generasi millennials tidak berkomunikasi. Generasi ini hidup dibawah bayang-bayang teknologi, iphone, email, atau telepon. Survey menyebutkan 66% pimpinan dari generasi X dan baby boomer lebih mengutama komunikasi langsung (in person) sedangkan generasi millennials lebih mengutama komunikasi via text, sms dan alat komunikasi lainnya.

  1. Generasi millennials ingin didengarkan dan tidak ingin idenya diabaikan. Generasi ini merupakan collaborative employees, mereka mengabaikan hirarkhi dalam organisasi. Mereka memilih egaliter dan kerjasama dalam tim. Intinya mereka tidak suka perintah oleh sistem birokrasi. Hal ini berbenturan dengan generasi sebelumnya yang melihat hirakhi merupakan sebuah hal yang harus dijalankan dengan ketat. Sehingga banyak generasi millennials yang membuka start up business sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem.
  2. Generasi millennials need a reason. Mereka tidak menerima segala sesuatu kebijakan dan keputusan tanpa alasan yang tepat. Generasi ini memberontak dengan hal-hal lama yang tidak ada dasarnya. Mesin google yang setiap saat memberikan mereka jawaban sehingga membentuk pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Tiga sifat utama tersebut membutuhkan gaya kepemimpinan dan manajemen baru untuk mengoptimalkan peran generasi millennials.

Kepemimpinan Gaya Millennials

Populasi masyarakat millennials akan mendominasi dunia kerja 2030 dimana 75 persen angkatan kerja akan diisi oleh kaum millennials. Untuk itu, pemimpin dan manager saat ini harus memahami gaya kepemimpinan yang diinginkan oleh kaum millennials.  Gaya kepemimpinan adaptive, gaya kepemimpinan supportive, dan gaya kepemimpinan appreciative.

Gaya kepemimpinan adaptive yaitu Gaya kepemimpinan seperti ini dapat menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan situasi. Gaya kepemimpinan adaptif berkebalikan dengan gaya kepemimpinan kharismatik yang kaku dan tidak luwes dalam interaksi dengan bawahan. Kaum millennials ingin diberlakukan adil dengan sistem merit yang jelas sehingga akan termotivasi dalam kinerjanya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sistem senioritas dalam organisasi.

Gaya kepemimpinan Supportive yaitu gaya kepemimpinan yang memberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dalam organisasi. Kaum millennials mendambakan pemimpin yang meng –coaching (pelatih) mereka dalam mengembangkan karir dalam organisasi. Selain itu, generasi millennia menuntut dunia kerja yang lebih flexible –working at home. Mereka lebih memilih bekerja dirumah sehingga waktu kerja lebih flexible, dapat memulai lebih awal dan berhenti lebih awal, lebih produktif, beristirahat ketika merasa kurang sehat, dan dapat mengerjakan multi-tasking   terutama bagi bekerja wanita yang memiliki keluarga. Selain itu, mereka membutuhkan pemimpin yang memberikan kesempatan untuk mengupgrade ilmu secara berkala, tidak terpaku dengan cara kerja konvensional karena setiap saat mereka melihat cara-cara kerja baru dari intenet.

Gaya kepemimpinan Appreciate. Kaum millennials hidup dalam zaman dimana pendidikan semakin mudah diakses. Mereka butuh penghargaan dan dihargai atas pencapainnya. Generasi millennials hidup dalam drama Korea yang romantis sehingga mereka seolah-olah berada dalam dunia yang serba roman. Kaum millennials memiliki ide yang idealis namun tidak mengetahui cara mewujudkan ide tersebut, mereka mengetaui (why) namun tidak (how).

Refleksi Kaum Millennials di Aceh

 

Dengan dunia yang terus berubah, maka tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Bila kaum millennials tidak menlengkapi diri dengan alat-alat yang dibutuhkan untuk bertahan dalam alam globalisasi ini, maka kaum millennials akan hilang atau dianggap sebagai lost generation.  Alat-alat apa saja yang dibutuhkan untuk bertahan dalam era digital ini.

Kaum millennials memutuhkan Value. Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia membutuhkan kebutuhan material dan spiritual. Kekeringan spiritual yang harus diisi oleh nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama harus menjadi pilar utama dalam membangun generasi millennials.

Kaum millennials harus belajar menghargai (respect).  Rasa aman dan damai yang tidak dialami generasi sebelumnya. Sebagai generasi yang lahir dalam era dunia yang damai, kaum millennia harus menghargai pengorbanan generasi sebelumnya. Banyak yang berpendapat generasi millennials sebagai generasi unhappy dan terlalu banyak mengeluh. Kaum millennials hidup dalam dunia yang serba instant sehingga membentuk pola pikir semuanya ingin cepat.

Kaum millennials harus keluar dari zona aman (comfort zone) dan mulai berkontribusi bagi masyarakat. Survey terbaru membuktikan bahwa kaum millennia belum mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kepemimpinan dan gaya manajemennya. Kemampuannya dalam memimpin masih tanda tanya. kaum millennia mengupdate perkembangan politik namun hanya sedikit saja yang tertarik dalam dunia politik. Tingkat partisipasi memilih kaum millennia juga masih sangat rendah bila dibandingkan dengan generasi X dan generasi baby boomer.

Kedepannya, kaum millennials Indonesia, khususnya di Aceh dihadapkan pada kenyataan dunia bisnis semakin terkoneksi, dunia kerja semakin kompetitif, akses pendidikan semakin luas, expektasi masyarakat semakin meningkat, batas-batas negara semakin hilang, informasi semakin mudah diakses. Kepemimpinan kaum millennials ditantang untuk menjawab perubahan jaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan, tradisi timur, dan modernisasi disisi lain sehingga dapat menjadi bagian dari sejarah dunia abad 21.

Kontributor Tulisan :

Koordinator Rumah Millennials Aceh

Said Achmad Kabiru Rafiie,SE,MBA (Dosen Manajemen Universitas Teuku Umar, Aceh)

Penulis Buku Manajemen : Teori & Aplikasi

Founder Rumah Millennials
Founder Indonesian Community Network
Inisiator Hari Komunitas Nasional (28 Sept)
Co-Founder Inspirasi Dosen
Dean of Business Studies LSPR Jakarta
Penulis Buku “Proud And Rise”
Former Mentor YOT (Young on Top Community)
Co Founder YOT Campus Ambassador
Youth Solidarity Maker & Connector
Youth Leadership Enthusiast

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *