Innovator & Social Actor Perspectives “It’s the Journey Not The Job”

#Launching Rumah Millennials Sesi 2

Millennials dikenal sebagai generasi yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi meski dikenal juga sebagai generasi dengan ego yang tinggi. Mungkin terdengar paradox, bagaimana mungkin bisa memiliki kepedulian sosial yang tinggi bila disaat yang sama memiliki ego yang besar. Rupanya pertanyaan inilah yang menjadi titik mula di sesi kedua grand launch Rumah Millennials di Auditorium Galeri Smartfren, Sabang Jakarta Pusat pada 22 Juli 2017.

Menjawab fenomena paradox tersebut Ketua Mata Garuda, Danang R. Ginanjar membuka sesi II Innovator & Social Actor Perspectives “It’s the journey not the job” dengan menjelaskan adanya dua modal penting yang harus dimiliki generasi Millennials. Modal tersebut adalah modal kemampuan atau skill, dan modal berikutnya adalah sikap atau attitude.

Dua modal ini menurut Danang sangat diperlukan bagi generasi Millennials untuk mencapai apa yang telah diimpikan oleh para Millennials. Sebagaimana telah diketahui bahwa generasi ini memang memiliki impian yang sangat beragam. Danang menjelaskan bahwa untuk mencapai sesuatu Millennials perlu membangun kemampuan atau skill, bukan sekadar mengungkapkan impian-impiannya di sosial media. “Saat ingin mencapai sesuatu usahakan untuk membangun skill,” ujar Danang.

Selain perlu membangun skill Danang juga menekankan bahwa yang diperlukan generasi Millennials berikutnya adalah sikap, atau attitude. Sikap yang baik akan bisa mengantarkan para generasi yang cenderung tidak sabaran ini sampai ke tujuan yang diinginkan. Sebab tanpa sikap yang baik generasi ini akan cenderung untuk menyerah dan berhenti di tengah jalan.

Pemaparan Danang agaknya sangat sesuai dengan judul sesi II yang berjudul Innovator & Social Actor Perspective “It’s the Journey not the Job”. Sesi ini lebih menekankan pada kisah-kisah perjalanan dan perjuangan para pegiat sosial dan inovator untuk mewujudkan impian mereka.  Sesi dibuka oleh CEO Wangsa Jelita, Nadia Saib yang mengungkapkan bahwa untuk menjadi generasi Millennials yang berkualitas harus memiliki sikap yang baik. Salah satunya adalah dengan selalu memiliki daya kritis. Nadia mengungkapkan dirinya bersyukur dibesarkan di keluarga yang mengharuskan dirinya untuk selalu memiliki alasan untuk segala pilihan yang diinginkan. “Bahkan saat saya berumur 4 tahun untuk meminta mainan, saya harus menjelaskan alasannya pada ayah saya,” kenang Nadia.

Rasa kritis itupun berlanjut hingga Nadia yang lulus dari fakultas Farmasi pada tahun 2008 dari Institut Teknologi Bandung. Pada saat itu dirinya menemukan sebuah sabun apel natural. Namun ternyata dirinya menemukan fakta bahwa sabun tersebut sama sekali tidak memiliki bahan apel di dalamnya. “Apple natural soap but not have apple in it?” tanya Nadia.  Berangkat dari rasa kritis tersebut kemudian dirinya bersama teman kampusnya mendirikan sebuah perusahaan produk kecantikan yang benar-benar memiliki bahan alami bernama Wangsa Jelita. “Wangsa Jelita artinya Dinasti Kecantikan,” ungkap perempuan finalis Social Entrepreneur of the Year oleh Ernest & Young pada tahun 2012 itu. Nadia berpesan bahwa sebagai generasi Millennials kita harus selalu accountable. “Intinya harus terus punya rasa penasaran. Apa yang ingin dipilih? being right or being kind?” pungkasnya.

Sementara itu, pembicara berikutnya adalah seorang inovator yang berhasil menciptakan gelas dan kemasan makanan yang bisa dimakan atau diminum sekaligus bersamaan dengan isinya. Karya tersebut dibuat oleh Founder & CEO Evoware, David Christian. David Christian rupanya juga memiliki sikap kritis yang sama seperti yang dimiliki Nadia, namun dirinya lebih perhatian pada masalah lingkungan. Menurutnya Indonesia adalah salah satu negara produsen sampah terbesar di dunia dan sebagian besar sampah tersebut adalah sampah plastik. “Sampah plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk diuraikan, dan sampah ini menyebabkan banyak masalah lingkungan seperti mencemari air tanah,” jelas David.

Di saat yang sama David menemukan fakta bahwa nelayan di kepulauan Seribu banyak yang semakin terjepit akibat laut yang tercemar oleh limbah plastik. Sehingga mereka mulai beralih profesi menjadi petani rumput laut dan tidak sedikit yang kemudian menjadi penagguran atau harus merantau jauh ke kota. David kemudian berusaha untuk memberdayakan nelayan-nelayan tersebut lewat rumput laut. Caranya adalah dengan meningkatkan permintaan rumput laut lewat produk hasil olahan rumput laut. Menariknya produk olahan tersebut adalah kemasan makanan yang diklaim David mampu menggantikan kemasan plastik konvensional. Salah produk hasil inovasinya adalah berupa agar-agar berbentuk gelas yang mampu menampung air dingin maupun panas layaknya gelas pada umumnya. Karena berupa agar-agar, gelas tersebut pun bisa dimakan berbarengan dengan minumannya. “Lewat produk Evoware kami ingin menciptakan ecolution (solusi lingkungan) lewat kebiasaan mikan, minum dan makan,” ujar David.

Sosok generasi Millennials lain yang sangat inspiratif dalam sesi ini adalah Angkie Yudistia. Seorang CEO dari Thisable Enterprise, perusahaan yang bergerak dibidang penyaluran tenaga kerja berkebutuhan khusus. Angkie yang sejak berumur belia harus mengalami Tuna Rungu mengakibatkan dirinya tidak bisa lagi mendengar suara dan harus menggunakan alat bantu dengar. Meski begitu dirinya tetap kesulitan untuk mendengar percakapan sehingga harus tetap melihat gerakan bibir untuk memahami.

Kondisinya sebagai seorang difabel membuatnya kerap mengalami perundungan dari kawan-kawan di sekolahnya. Namun dirinya tidak pernah menyerah sebab Angkie selalu ingat pesan ayahnya yang berpesan “bila ingin dinaikkan derajat raihlah pendidikan setinggi mungkin,” ungkap perempuan yang telah meraih gelar master di London School of Public Relations – Jakarta itu. Sikapnya tersebut akhirnya membawanya untuk berjuang meningkatkan derajat rekan-rekannya sesama difabel yang banyak mengalami pengangguran lewat Thisable Enterprise yang didirikannya. Perjuangannya yang dimulai sejak tahun 2010 itu tidaklah mudah. “3 tahun awal harus membangun kesadaran dengan berbagai cara seperti melaunching buku dan edukasi,” ungkap Angkie. Perjuangan Angkie akhirnya berbuah manis ketika mulai banyak perusahaan yang aware dengan nasib para difabel di Indonesia. Berbagai perusahaan akhirnya mau untuk merekrut difabel yang telah dibina oleh Thisable. Termasuk salah satunya adalah GoJek Indonesia lewat berbagai layanannya seperti Go-Auto, Go-massage. Hingga saat ini kurang lebih 3.000 difabel telah mendapatkan kesempatan kerja lewat Thisabel Enterprise.

Apa yang telah diraih oleh para generasi Millennials tersebut menurut Ilman Dzikri di sesi yang sama, adalah sesuatu yang menakjubkan. Menurutnya untuk bisa menjadi otentik seperti mereka, generasi Millennials perlu memahami beberapa hal. Diantaranya seperti harus mampu selalu mempertanyakan hal yang sudah ada atau status quo.

Ilman yang menjelaskan teori dari Adam Grant tentang originalitas mengungkapkan bahwa dalam menghasilkan karya yang original harus mampu untuk membuat sebanyak mungkin ide yang kemudian harus mampu untuk diuji. Ide-ide tersebut bisa didapatkan dengan memperbanyak wawasan lewat mencari pengalaman-pengalaman dan perspektif baru. Setelah ide terkumpul yang perlu dilakukan adalah mencari timbal balik dari rekan sebaya. “Jangan meminta timbal balik dari sosok yang lebih tinggi seperti manager, karena mereka cenderung untuk mencari ide yang telah terjamin sukses. Carilah timbal balik yang jujur dari teman sebab mereka tidak ada beban untuk mengharuskan ide kita harus suskes,” jelas Ilman. Tahap terakhir yang diperlukan untuk mewujudkan ide adalah dengan melakukan inkubasi atau penundaan strategis. Menurut Ilman inkubasi perlu dilakukan untuk mematangkan ide yang telah ada. Banyak para inovator besar dunia yang melakukan inkubasi idenya secara strategis.

Menariknya pada pembicara terakhir, Fanbul Prabowo mengungkapkan fakta permasalahan besar yang sering terjadi pada generasi Millennials saat berusaha untuk mewujudkan ide-idenya. Yakni para generasi Millennials cenderung tidak bisa dipahami oleh orang tuanya sendiri karena tidak banyak menghasilkan uang. Fanbul yang mengungkapkan masa lalunya sebagai “anak bandel” kerap berfikir egoistis. Drop out sekolah adalah hal biasa baginya, namun cara pandangnya berubah pada saat letusan Gunung Merapi pada tahun 2010. Driinya mulai terlibat dalam kegiatan kerelawanan. “Saat itu saya terpaksa menjadi relawan karena terjebak di pengungsian,” katanya. Sejak saat itu dirinya banyak bergerak dibidang sosial dan sempat menjadi relawan pengajar di Desa Ngadisari, desa terakhir sebelum Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. “Saat itu saya menyampaikan hal paling munafik yang pernah saya lakukan, yakni mengajak anak-anak desa untuk terus bersekolah,” ungkap Fanbul diiringi gelak tawa para hadirin.

Meski begitu Fanbul mengaku bersyukur pernah mengalami pengalaman tersebut. Dan merasa banyak hal yang bisa diselesaikan lewat kerelawanan. Dirinya kemudian menggagas sebuah komunitas bernama Jogja Peduli untuk menghimpun komunitas-komunitas di Jogja. Hingga saat ini kurang lebih 175 komunitas telah menjadi jaringan yang siap untuk bergerak dalam kegiatan sosial. Fanbul juga sedang dalam proses meluncurkan sebuah platform sosial baru bernama probono.id yang berusaha mempermudah para profesional untuk berperan dalam kegiatan sosial. Dirinya kemudian berpresan bahwa untuk meyakinkan orang tua menerima apa yang generasi Millennials lakukan memerlukan sebuah cara. “Untuk menyampaikan ide pada orangtua. Pahami perspektif yang dimiliki orang tua. Kita harus bisa memperlihatkan wujudnya pada mereka. Jika telah mendapatkan restu, maka semuanya akan sangat cepat berkembang,” pesan Fanbul.

Author :

Bagus Ramadhan (Koordinator Konten Rumah Millennials)

Photo Credit by : @nah.creative

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *