How Confident Are Millennials About Their Career Prospects? Working Longer, Playing Harder?

How Confident Are Millennials About Their Career Prospects? Working Longer, Playing Harder?

#Launching Rumah Millennials Sesi 1 

Generasi millennials saat ini kerap menjadi perbincangan disetiap kesempatan. Banyak yang bertanya-tanya mengapa generasi millennials seperti ini, seperti itu. Tidak sedikit juga yang baru bertanya, apa sih generasi millennials. Jawaban itu tampaknya terjawab saat grand launching Rumah Millennials di Auditorium Galeri Smartfren, Sabang Jakarta Pusat pada 22 Juli 2017. Berbagai pembicara berkumpul mendiskusikan dan memaparkan bagaimana sejatinya generasi millennials dan bagaimana untuk menghadapi mereka

Pada sesi pertama yang berjudul How Confident Are Millennials About Their Career Prospects? Working Longer, Playing Harder? pembicara yang hadir adalah Gunawan Susanto yang juga merupakan CEO IBM Indonesia. Dirinya menjelaskan bahwa generasi Millennials adalah generasi yang memiliki impian besar. Namun meski memiliki impian yang besar, generasi ini memiliki paradox salah satunya adalah mereka tidak mudah menahan diri. “Mereka selalu ingin instant gratification, padahal di dunia karir dan dunia nyata ada yang namanya proses.”

Gunawan juga menjelaskna bahwa generasi millennials kebanyakan telah mengalami kecanduan terhadap smartphone. Dirinya menyontohkan, bagaimana generasi muda yang dekat dengan teknologi digital ini kerap tidak tenang saat sudah melakukan posting sesuatu di sosial media. “Kita menghitung berapa banyak likes yang kita dapat. Jika sedikit kita selalu bertanya, kenapa ya cuma sedikit yang memberi likes.”

Selain itu menurutnya, kecanduan juga mengakibatkan generasi millennials sulit untuk membangun hubungan interpersonal dengan orang lain. Penyebabnya adalah saat generasi ini berkumpul tatap muka dengan rekan-rekannya mereka cenderung sibuk dengan ponsel pintarnya masing-masing. Padahal kemampuan menjaling hubungan ini perlu untuk membangun karir. Oleh karena itu menurut Gunawan, meski Millennials memiliki banyak keunggulan, mereka harus memahami kelemahannya juga.

“Tidak ada yang salah dengan workhard play hard. Tapi generasi millennials harus cenderung mampu mewujudkan mimpi dengan usaha yang nyata. Bukan dengan memperjelas mimpi namun usahanya blur. Pondasinya adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara mendasar demi membangun deep relationship. Jangan hanya mau bagusnya saja, tapi juga harus mau menerima konsekuensinya,” pesan Gunawan.

Sementara itu, Miss Internet Indonesia 2017, Marsya Gusman memaparkan tentang bagaimana teknologi sejatinya mampu membuka berbagai kesempatan baru. Bahkan berkat teknologi muncul profesi-profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada.

“Mengembangkan karir juga menjadi mudah. Jika dahulu menjadi selebriti memerlukan waktu yang panjang. Kini hanya dengan sosial media setiap orang bisa menjadi selebriti. Begitu pula dengan profesi marketing, bila dulu hanya menggunakan brosur atau materi cetak untuk pekerjaan yang sangat sporadis, saat ini bisa dilakukan dengan sangat tertarget. Bahkan ibu rumah tangga saat ini pun bisa bekerja dari rumah. Jadi teknologi jika dimanfaatkan dengan baik mampu membuka peluang baru,” ujag Marsya Gusman.

Memanfaatkan teknologi untuk hal yang positif memang sebuah tantangan yang harus mampu dijawab oleh generasi Millennials. Sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Amri yang merupakan diplomat di Kementerian Luar Negeri RI. Dirinya menjelaskan bahwa generasi millennials harus mampu untuk mencapai impian-impian yang telah ditentukannya. Menurutnya bermimpi adalah ibarat mengukir langit “namun untuk mampu mengukir langit kita harus bisa mencapai langkah-langkah yang nyata,” tekan pria lulusan Ph.d di Australia ini.

Dudy menjelaskan, “sebagaimana pak Habibie bilang kita harus bisa untuk lompat tidak hanya jalan ataupun berlari. Tidak hanya mengerjakan satu hal tetapi juga beberapa hal sekaligus.”

Namun ada hal yang perlu diperhatikan oleh generasi Millennials seperti yang dijelaskan oleh Jurnalis Senior TV One, Balques Manisang yang mengungkapkan bahwa saat ini meski teknologi telah banyak membuka kesempatan dan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru, teknologi juga menciptakan krisis bagi profesi-profesi tertentu seperti jurnalis yang bukan malah mendapatkan kebebasan tetapi malah banyak mendapat reaksi. Seperti adanya peraturan-peraturan yang mengekang kebebasan dengan peraturan hate speech dalam perspektif pemerintah. Karena krisis seperti ini, berbagai orang harus mampu memikirkan kembali profesi yang ditekuni oleh generasi millennials.

Balques melanjutkan, sejatinya saat ini generasi millennials memang dalam situasi yang bebas untuk beraksi, namun generasi ini perlu untuk kembali memerhatikan konten-konten yang mereka jadikan perhatian. Sehingga mereka tetap bisa memiliki empati yang kuat.

Dirinya menjelaskan bahwa saat ini berita-berita tragedi bencana dan kemanusiaan tidak lagi menarik bagi generasi millennials. Namun mereka lebih tertarik dengan berita yang sifatnya sensasional dan bombastis. Padahal permasalahan bencana dan kemanusiaan membutuhkan solusi-solusi dan solusi tersebut hanya akan bisa dibuat oleh generasi millennials sendiri. “Generasi millennials cenderung berharap orang lain saja yang menyelesaikan masalah yang ada.”

Masalah ini tentu saja merupakan sebuah tantangan untuk mampu dijawab oleh generasi millennials. Sebab menurut Balques, Indonesia saat ini berada dalam era keemasan yang memiliki banyak jumlah anak muda. Mengingat di lain negara, banyak negara yang kehabisan anak muda. Itulah mengapa menurutnya kita perlu berfikir tentang bagaimana mampu menjadi aset bangsa.

Balques pun berpesan, “Generasi emas jangan buang waktumu. Jengan pernah membatasi diri untuk apapun yang ingin dicapai. Jangan pernah menyerah bila mengalami kegagalan. Sebab kalaupun gagal kita telah mencoba untuk jatuh ke depan.”

Author :

Bagus Ramadhan (Koordinator Konten Rumah Millennials)

Photo Credit by : @nah.creative

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *