Millennial dan Collective Intelligence

Super Spirit Bomb

Salah satu jalan cerita paling sengit yang terjadi di dalam komik Dragon Ball Z adalah di mana Goku harus berhadapan dengan Majin Boo. Lawan tarung Goku ini tidak main-main. Bagaimana tidak, Boo memiliki banyak kekuatan yang luar biasa. Tubuhnya sangat lentur seperti karet dan juga bisa menyembuhkan luka dengan cepat. Boo juga terkenal bisa menyerap kekuatan musuh sehingga ia bisa mencuri kekuatannya.

Dalam sebuah pertarungan final melawan Boo, Goku mengeluarkan segala kekuatannya hingga merubah dirinya menjadi Super Saiyan 3. Walau begitu, Boo masih bisa menandingi kekuatan tersebut sehingga Goku menjadi begitu kelelahan. Partner tarung Goku, Vegeta, memiliki ide agar Goku mengeluarkan jurus andalanya yaitu Spirit Bomb agar bisa mengalahkan Boo. Berbeda dengan Kamehameha, kekuatan Spirit Bomb tidak datang dari Goku seorang. Goku mendapatkan kekuatan tersebut dengan cara mengumpulkan seluruh energi dari mahluk hidup maupun benda mati di dalam satu atau beberapa planet.

(Embedded video: DBZ – Goku’s Spirit Bomb Complete (720 HD)) : https://www.youtube.com/embed/3VA1qMDklS0

Energi yang terkumpul tersebut kemudian terbentuk menjadi sebuah bola raksasa berwarna biru dan digunakan layaknya seperti bom untuk mengalahkan lawan. Jurus ini sudah pernah dilakukan oleh Goku di pertarungan-pertarungan besar sebelumnya. Namun, ketika mengalahkan Boo, Goku menggunakan Spirit Bomb yang sangat besar sehingga disebut Super Spirit Bomb.  Kumpulan energi tersebut ia dapatkan dari kekuatan mahluk dan benda dari planet Bumi dan planet Namek.

Generasi Millennial Indonesia tentunya tidak asing apabila mendengar komik atau serial TV Dragon Ball Z yang sempat happening meramaikan layar kaca di tahun 1996 – 1997. Saya sebenarnya bukan fans berat Manga Jepang ini, namun jurus Super Spirit Bomb ini berkesan dalam ingatan saya. Ide tentang bagaimana seorang pahlawan didukung oleh banyak orang sehingga menghasilkan kekuatan besar guna mencapai sebuah tujuan bersama tidak hanya menyentuh hati, tapi juga menjadi inspirasi tersendiri bagi saya.

 Collective Intelligence

 Coba kita pikirkan bersama bagaimana Google dan Wikipedia menjadi begitu besar seperti sekarang. Secanggih apapun teknologi yang dimiliki oleh Google dan Wikipedia, tanpa bantuan dari seluruh manusia di planet Bumi, niscaya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang. Google sebagai mesin pencari paling akurat di muka bumi ini tidak mungkin bisa memberikan jawaban atau referensi informasi pada sebuah kata kunci apabila Google harus menciptakan jutaan website atau blog sendirian. Algoritma secanggih apapun tidak mampu menciptakan informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Begitu juga dengan Wikipedia. Semudah apapun platform yang dimiliki oleh Wikipedia guna memudahkan relawan atau kontributornya dalam mengisi ensiklopedia terbesar ini, tidak akan terealisasi apabila tidak didukung oleh jutawan relawan dan kontributornya yang mau susah payah mencari, mengisi, dan menyunting informasi yang berada di dalam Wikipedia.

Contoh fenomena di atas dikenal dengan istilah Collective Intelligence. Thomas W. Malone, pendiri dari MIT Center of Collective Intelligence, mendefinisikan Collective Intelligence sebagai “Groups of individuals acting collectively in ways that seem intelligent”. Sebenarnya, Collective Intelligence telah ada sebelum dunia memasuki era teknologi Internet. Keluarga, komunitas, perusahaan, dan negara adalah contoh bagaimana sekumpulan manusia atau individu bekerja sama sehingga terlihat seperti sebuah intelligent.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa Internet lah yang membuat Collective Intelligence semakin jauh berkembang. Teknologi social media seperti sekarang ini menyuburkan proses Collective Intelligence itu terjadi. Fenomena ini bagi Millenial, yang sering disebut sebagai Digital Native, tentunya adalah sebuah keunggulan yang nyata. Diharapkan para Millenial tidak hanya jago menggunakan Internet tapi juga mampu mengambil begitu banyak manfaat darinya.

Fenomena Collective Intelligence ini mirip dengan Super Spirit Bomb yang saya bahas di awal tulisan ini. Kamu sebagai seorang Millenial bisa mengumpulkan intelligent, pemikiran, pengetahuan dari seluruh dunia untuk membantu kamu mengejar tujuan dan impian di dalam hidupmu. Jangan sampai Super Spirit Bomb ini justru menjadi malapetakan bagimu karena tidak mampu mengelolanya dengan baik. Contoh sederhanannya adalah seperti membantu menyebarkan berita hoax yang tentunya bisa berakibat fatal tidak hanya untuk dirimu tapi juga orang lain. Bisa jadi kamu malah mendukung terbentuknya sebauh Collective Stupidity. Duh jangan sampai deh.

Growth Mindset

Dalam bukunya “Mindset: The New Psychology of Success”, Carol Dweck menjelaskan bahwa ada dua jenis individual berdasarkan pandangannya mengenai bagaimana sebuah keahlian dapat diperoleh. Yang pertama adalah Fixed Mindset dimana individual ini percaya bahwa keahlian dan kecerdasan sudah datang dari sananya sehingga tidak dapat lagi bertumbuh. Yang kedua adalah Growth Mindset dimana individual ini percaya bahwa keahlian dan kecerdasan bisa dikembangkan dan harus diperoleh melalui latihan, kerja keras, dan melalui pendidikan. Millenial hidup di era dimana terus berkembang adalah bukan sebuah pilihan. Apalagi Millenial memiliki keistimewaan karena memiliki akses ke Collective Intelligence di dalam dunia maya. Millenial yang memiliki growth mindset sejatinya bisa memanfaatkan Collective Intelligence guna mengejar 3 tujuan penting di bawah ini: 

1. Learning

Ketika masih duduk di bangku kuliah, akses ilmu pengetahuan saya selain di kelas dan perpus adalah Internet. Hampir setiap hari saya sempatkan setelah kuliah untuk belajar di komputer perpustakaan Mendiknas di Senayan. Ketika itu Internet masih barang mahal sehingga harus mencari akses Internet public seperti disana. Namun, sekarang Internet bukan barang mewah lagi, kita bisa akses dengan sangat cepat melalui smartphone kita. Selain Wikipedia, saya memanfaatkan situs seperti www.yasiv.com untuk mencari relevansi buku terhadap jenis disiplin ilmu yang sedang saya pelajari. Saya dibantu untuk memfilter informasi mengenai buku apa saja yang perlu dibaca dimana filter tersebut adalah behavior dari orang seluruh dunia dalam mencari sebuah buku. Saya dibantu oleh sebuah teknologi Collective Intelligence. Saya merasa memiliki akses intelligent yang luar biasa guna meng-upgrade pengetahuan yang saya miliki. Saya merasa berdaya.

(embed image hasil pencarian buku di Yasiv.com)

2. Career

Setelah berdaya dengan Collective Intelligence, tentunya kita menjadi lebih percaya diri dalam berkarya melalui pengetahuan dan pengetahuan orang lain yang kita telah miliki. Banyak anak muda kini sudah memegang jabatan strategis di dalam perusahaan startup maupun perusahaan besar. Kemampuan kita dalam mengakses, mengolah, dan memodifikasi kemampuan menjadi ciri khas generasi Millenial sebagai generasi knowledge worker. Walau begitu, masih banyak dari generasi kita ini dengan kemudahan yang telah saya sampaikan di atas tersebut justru malah membuat kita menjadi tidak fokus dan malas. Cal Newport, melalui rilis buku terbarunya Deep Work, mengajak kita untuk bisa berkarya dengan melakukan kegiatan yang disebut dengan Deep Work. Ia mengajak kita untuk bisa fokus melakukan sebuah pekerjaan sehingga kita benar-benar bisa memanfaatkan secara penuh kemampuan kognitif kita untuk membuat sebuah karya. Jadi jangan sampai kemudahan yang kita miliki justru membuat kita menjadi tidak produktif. Jangan sampai juga hal tersebut justru menghambat kita menghasilkan karya-karya hebat yang akan bikin karir kamu tidak berkembang.

3. Causes

Sebagai generasi Millenial kita ingin karya-karya kita bisa bermakna bagi banyak orang. Kita ingin meninggalkan sebuah legacy kepada generasi selanjutnya. Kalau kamu punya sebuah pemikiran yang dituangkan ke dalam blog sehingga konten di dalam blog kamu menjadi jawaban bagi orang generasi terdahulu atau mendatang melalui hasil pencarian Google, itu adalah sebuah legacy. Sesederhana itu apabila benar-benar kamu lakukan dengan sepenuh hati. Apabila kamu juga memiliki kepedulian untuk berkontribusi di Wikipedia Indonesia dengan menuliskan hal-hal baru yang belum pernah ditulis, itu juga salah satu bentuk legacy. Kadang, kita terlalu pusing memikirkan bagaimana kita bisa berdampak luas bagi masyarakat. Padahal dengan mengerjakan hal-hal yang kita suka, hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang bernilai karena bantuan dari teknologi atau fenomena collective intelligence tersebut.

Tunggu apa lagi Millennials?!

Author :

Andi PrimarethaFounder at Brand Newsroom World (www.brandnewsroomworld.com). Andi adalah seorang praktisi dan akademisi di bidang Digital Media Communication. Ia menamatkan studi S1 dan S2 di The London School of Public Relations – Jakarta. Selain menulis buku, saat ini Andi sedang membangun perusahaan konsultan untuk membantu perusahaan mendirikan sebuah brand newsroom, sebuah unit terintegrasi untuk menciptakan konten yang berkualitas dan juga menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *