Wahai Millennial Indonesia : Biarkan Setiap Kegagalan Menjadi Sebuah Proses Pembelajaran !!

Wahai Millennial Indonesia : Biarkan Setiap Kegagalan Menjadi Sebuah Proses Pembelajaran !!

Kalau anak-anak salah, kami tidak pernah memarahi mas. Biarkan setiap kegagalan menjadi sebuah proses pembelajaran” (D’Era-GON)

Kalau anak-anak salah, kami tidak pernah memarahi mas. Biarkan setiap kegagalan menjadi proses pembelajaran. Wong mereka berkebutuhan. Ya to Mas?

Mentari pagi tidak pernah luput memancarkan sinarnya untuk muncul dari ufuk timur hingga tiba saatnya sang fajar harus kembali ke pelupuk tanda malam telah menjelang. Sebuah tempat, jaraknya memang lumayan jauh dari Kota Yogyakarta, namun letaknya diantara sawah dan sebuah bank milik pemerintah menjadi sebuah ciri khas tersendiri. Penanda akan ada hal lebih lanjut yang akan dikisahkan selanjutnya. Disana senyum sumringah dari mereka ‘yang terlupakan’ terpancar disetiap harinya. Tak peduli seberapa panas terik matahari, tak berseri walaupun bulan yang tak kunjung datang menyinari.

Bagi mereka setiap hari adalah keceriaan. “Mas, aku besar nanti mau jadi pemain Band” ucapnya dengan terbata-bata namun apa yang telah terbilang seakan menyiratkan jutaan frasa kata tak bernada tentang betapa mimpi bukan hanya dimiliki oleh sebagian dari mereka yang bergelimang harta, berpendidikan tinggi, ataupun si dia dengan segudang prestasi.

Kehidupan malaikat-malaikat kecil yang tinggal disebuah surga idaman bernama Panti Asuhan Bina Siwi memang cenderung tidak lebih berwarna dibanding kita (entah kamu yang merasa mahasiswa atau yang baru hangat-hangatnya menyematkan sebuah gelar dibelakang nama pertanda telah selesainya masa bakti kampus dan siap berhijrah ke dunia yang lebih realis).

Mulai dari bangun, bergegas pergi ke sekolah, hingga sore tiba biasanya ada dua kegiatan rutin yang sifatnya lebih kepada Fardhu Ain antara lain (Menyambut segerombolan tamu entah dari arah angin mana datangnya atau yang kedua mengerjakan sebuah kegiatan penopang perekonomian Panti asuhan).

Termasuk kami ber-4 yang kini telah ‘bertelur’ menjadi 8. Sekumpulan mahasiswa biasa yang mencoba terjun ke lapangan (lebih tepatnya saya yang sok-sok membuat sebuah gerakan tapi lalai / lebih halusnya menunda sebuah hal wajib yang bernama KKN) untuk sekedar menerapkan ilmu yang didapatkan dari kumpulan teori buku cetak, jurnal dan segala hal yang berbau akademik menjadi sebuah program nyata yang kita beri nama D’Era-GON (Disability Era Goes On Development).

Ibu Djum berkata “Mulai dari bisnis ternak Itik, Ayam, Kambing. Pindah ke pembuatan makanan ringan sudah. Tapi ujung-ujungnya gagal mas“. Namun bukan Bina Siwi namanya jikalau harus menyerah dalam memutar otak mencari jalan keluar terbaik dari permasalahan perekonomian. Ya jelas sudah biasa, buktinya pemerintah kota Yogya hanya memberikan Rp.500.000,00 setahunnya mereka tetap bisa berkehidupan (walaupun masih jauh dari kata layak) He, he.

Dengan kesotoyan kami, D’Era-GON menawarkan sebuah konsep sociopreneur dimana Batik menjadi objek produk dengan teman-teman disabilitas Panti Bina Siwi menjadi aktor kunci dibalik layarnya.

Bermodalkan sebatang pensil dan secarik kertas putih polos. Terjadilah sebuah proses katarsis tentang segala unek-unek kreatifitas teman-teman disabilitas tumpah ruah dalam sebuah gambar yang mungkin terlihat sempurna jika kita melihat sebuah sisi pesan yang terkandung disetiap polanya.

Kini, apa yang telah dikonsepkan telah terbentuk menjadi sebuah hasil. Kami (D’Era-GON) berterimakasih kepada seluruh malaikat-malaikat yang ada di Bina Siwi atas terciptanya produk Kain Batik pertama.

#D‘Era-GO #BinaSiwi #Sociopreneur #ThisAbility

Author :

Irvandias Sanjaya (Initiator D’Era-GON Sociopreneurship & Co-Founder of Indonesia Bisa Social Movement). An undergraduate student Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada. Have a passion on Socioprenership, Community Services, and Leadership that deliver him into became a Founder of some youth movement such as: Indonesian Youth Action and D’Era-GON. He’s also CEO of Disability Crowdfunding Platform named “Design for Dream” (www.designfordream.id). His exposure have taken him as a receiver of Young Leaders for Indonesia by McKinsey, Aktivis Nusantara Scholarship by Dompet Dhuafa and 2nd rank on Mahasiswa Berprestasi UGM on Liga Mahasiswa Berprestasi 2017 with following achievements.

Psychology Undergraduate Program
Faculty of Psychology
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Jl. Bulaksumur No. 1, Sleman,
Yogyakarta, kode pos : 55281

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *