What Can Millennials Do To Collaborate with Older Generations ?

What Can Millennials Do To Collaborate with Older Generations ?

Sebagai seorang millennial awal (late millennial), saya sering mendengar keluhan yang sama antara teman-teman sepantaran atau pun lebih muda.

“Bos terlalu kaku” 

“Kok masih manual sih?” 

“Jadul banget cara pikir nya” 

dan lain-lain.

Memang setiap lintas generasi akan selalu timbul perbedaan pendapat karena perbedaan cara pandang. Tapi atasan atau partner kita adalah orang generasi X atau bahkan generasi baby boomer, gimana supaya kita bisa kerja sama dengan mereka?

Berikut adalah beberapa tips untuk memudahkan kamu berkomunikasi dengan mereka:

1. Result Oriented

Berbeda dengan kaum millennial yang bisa diberikan penjelasan mengenai growth dan future value dari user database, baby boomers dan gen x sangat menghargai hasil dalam bentuk kekayaan finansial.

Bisnis tak menghasilkan uang itu bukan berbisnis namanya. Setiap hari bakar uang, kapan ROI nya?

Solusi:

Kalau beliau adalah investor di start-up kamu, berilah penjelasan sedetil-detilnya dengan menggunakan charts, tables, dan numbers. They love numbers. Beri contoh nyata beberapa perusahaan sukses yang mengandalkan future value dari user database seperti Tokopedia, Gojek, Facebook, Instagram dan lain-lain.

Kalimat pamungkas:

“Setelah 10 tahun bakar uang, perusahaan X akhirnya dibeli dengan nilai 10T. Itu berarti 1T per tahun, 83M per bulan. Nilai kita sekarang…”

2. Understand Their World

Setiap orang punya cerita dibalik semua tindakan mereka. Cari tahu lah alasan itu dengan mereka langsung agar kamu mengerti alasan utama si bos tidak mau memilih strategi kamu.

Solusi:

Keep the communication line open, be genuine and truly care kepada mereka. Karena dibalik ketegangan keseharian di kantor, mereka juga punya keluarga dan pernah menjadi generasi yang dianggap remeh juga.

Kalimat pamungkas:

“Ibu/bapak, apa ada waktu untuk makan siang (atau sekedar ngopi) bersama? Saya tertarik mendengar lebih lanjut cerita yang pernah ibu/bapak sampaikan sekilas di meeting kemarin.”

3. Respect Their Input

Masukan yang dikasih kok *katro* banget ya, gak cocok digunakan di era digital. Atau, kok dia play safe banget ya, terlalu menghindari resiko.

Itu menurut kita. Padahal mungkin dia sudah punya banyak pengalaman di bidang tersebut sebelumnya.

Solusi:

Jika kamu sudah mengumpulkan data yang cukup dan argumentasi kamu ditolak tanpa alasan baik, biarkan saja. Kalau sampai gagal, kita punya pembuktian cukup bahwa planning kita lebih baik. Di sini leverage kamu jadi bertambah.

Kalimat pamungkas:

“Untuk proyek itu memang paling tepat menggunakan strategi yang saya sampaikan di meeting terakhir. Sayang sekali kita kehilangan kesempatan ini tapi tidak apa-apa, kita pasti bisa meraih kesempatan berikutnya.”

4. Be Professional With Your Smartphone

Terkadang sang atasan tahunya smartphone hanya dipakai kalau tidak untuk main game, ya untuk berkomunikasi (ngobrol) dengan teman-teman.

Padahal di smartphone bisa kita gunakan untuk mengatur schedule, menyatat dokumen agar aman tersimpan di cloud, menghubungi calon customer yang lebih suka berkomunikasi lewat Whatsapp, berbicara dengan divisi lain melalui aplikasi manajemen proyek seperti Slack, Trello, Wunderlist, dan banyak contoh lainnya.

Solusi:

Setiap ada kesempatan, perlihatkan layar smartphone kamu ke bos sambil ucapkan kalimat pamungkas berikut ini,

Kalimat pamungkas:

“Ibu Wati di bagian purchasing sudah konfirmasi purchase order, sekarang PPIC sedang menghitung berapa total biaya produksi.”

5. Deep Work

Milenial sudah terbiasa dengan notifikasi yang hampir setiap saat mengganggu kita. Entah itu dari media sosial, atau pun permintaan dari client.

Dengan dalih membalas pesan klien atau market research, kita malah tidak dapat menyelesaikan pekerjaan utama kita dengan baik.

Solusi:

Ada baiknya set waktu yang tepat untuk membalas mereka. Untuk hal ini, gunakanlah teknik pomodoro yaitu istirahat 10-15 menit setelah 1 jam bekerja secara fokus penuh.

Kalimat pamungkas:

Tidak ada. Just do your work!

Selesai sudah 5 tips yang bisa saya share kali ini. Semoga tips ini bisa membantu memperbaiki hubungan kamu dengan atasan di kantor.

Selalu ingat, setiap perusahaan punya norma dan kultur yang berbeda-beda. Jadi sebelum tips ini dijalankan, cek dulu apa langkah tersebut bisa membuatmu melanggar sebuah protokol yang ada.

Sukses dan tetap berusaha keras!

Author

Steven Alidjurnawan – Head of Marketing in Multi Sukses Foam and Founder of Kiseki Japan.

 

 

 

Photo Source :

https://www.linkedin.com/pulse/communicating-millennials-how-speak-language-brianne-l-dehlinger

$100,000 +