Panggung untuk Millennials

Panggung untuk Millennials

Panggung untuk Millennials

Akhir bulan Maret 2017, saya menghadiri  rapat perdana panitia Indonesia Youth Conference 2017 di kantor Sinergi Muda, Jakarta. Sebelum kami masuk membahas tentang acara yang sedang kami persiapkan, pembicaraan topik pertama yang diangkat adalah “Millenials”.  

Puluhan komentar mulai masuk dari setiap peserta yang hadir dan bisa disimpulkan menjadi seperti ini:

  1. Generasi Millennials adalah generasi paling tech-savvy karena kemampuannya dalam mengikuti tren pembaharuan teknologi. Bagaimana tidak tech-savvy, generasi Millenials punya akses teknologi di genggaman mereka, lihat saja smartphone super canggih itu. Bandingkan dengan generasi di atas Millenials, si generasi X dan Y. Apakah mereka tumbuh dengan kemampuan smartphone di tangan? Jangankan smartphone, menonton kartun di Minggu pagi saja sudah menjadi kelebihan dan kebahagiaan tiada tara bagi anak – anak generasi X dan Y di saat mereka masih bertransformasi. Jika kini mereka juga menggunakan smartphone, tak lain dan tak bukan karena tuntutan lingkungan, entah komunikasi dengan rekan kantor dan dokumentasi. Bagaimana dengan generasi Millenials? Smartphone dan internet bukan hanya sekedar alat komunikasi semata, bagi mereka ini adalah hidup. Menyalakan televisi, AC, rapat sama tim organisasi, mengerjakan skripsi, nyari gebetan deket rumah via Tinder, bikin video, sebar berita hoax, semuanya bisa dengan smartphone. Ini baru satu contoh produk teknologi, belum yang lainnya seperti kamera Drone, Google Home, dan lainnya.
  2. Generasi paling gak kuat digembleng karena baru berjuang sebentar saja sudah merasa tidak mampu berkompetisi dengan berbagai macam alasan yang ada. Bisa dibilang, generasi yang hanya mau enaknya saja.

Mau bagaimana lagi, memang benar begitu, kan? Ayolah, mengaku saja, generasi Millenials memang demikian. Saya berani melontarkan empat poin di atas karena poin – poin ini yang saya saksikan sehari – hari, paling tidak sejak tahun 2014 silam.

“Lalu saya lupa, saya juga masuk kategori generasi Millennials…”

Iya, benar. Saya juga generasi Millenials. Apakah saya sedang dalam upaya menjatuhkan pandangan warganet tentang generasi saya? Tentu tidak. Di sini, saya akan berikan sedikit gambaran tentang generasi muda nan ajaib ini dan sedikit tips bagaimana kami bisa menjadi pembawa tongkat marathon masa depan khususnya di perusahaan.

Generasi Teknologi. Generasi kami hidup dan berkembang di jaman perkembangan teknologi, mulai dari teknolog perkembangan smartphone hingga pembuatan teknologi terbarukan dan penemuan luar biasa. Bahkan, baru pada generasi kami ditemukan bahwa akan ada mobil terbang! Singkatnya, kami memiliki kemampuan untuk membuat dan mengembangkan teknologi itu jika dibutuhkan dan juga dapat menggunakannya dengan baik.

Tidak lupa, karena kecanggihan teknologi juga, aspirasi generasi kami sebagai Millenials dapat didengar dan dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan, contohnya melalui petisi online. Para Millenials ini suka ditantang melakukan hal baru, termasuk mempelajari teknologi yang baru dan belum familiar. Anda bisa memberikan sedikit tantangan kepada para Millenials untuk hal ini dan mereka dengan senang hati akan mempelajarinya.

Generasi Eksis. Tidak heran jika banyak sekali bermunculan wajah – wajah Millenials yang kemudian menjadi pengaruh bahkan standarisasi anak muda masa kini. Contohnya, kehadiran Kylie Jenner dengan penampilannya yang glamour dan rupawan menjadi tolak ukur bagi hampir seluruh wanita dan jika bisa mengikuti penampilannya berarti ia sudah termasuk kategori cantik. Lagi, jika kamu bisa diterima di program pertukaran pelajar pada masa kuliah berarti kamu sosok pintar yang perlu ditiru, atau jika kamu mengikuti berbagai program kepemudaan maka nilai sebagai anak muda yang berbobot telah kamu miliki, dan pencapaian lainnya.

Semua pencapaian yang diraih tentunya akan dibagikan ke media sosial untuk sekedar menunjukkan kepada followers  atau teman – teman bahwa mereka mampu meraih impiannya atau mereka telah bekerja untuk suatu hal yang belum tentu dapat dikerjakan oleh Millenials lainnya, dengan tujuan akhir, ingin mendapatkan sedikit “pengakuan publik”. Cara eksis seperti ini bukan hal yang salah kok, selama kita membagikan hal – hal positif dan dapat menginspirasi anak muda lainnya. Bagaimana menarik hati para generasi Millenials yang suka eksis? Anda cukup memberikan sedikit kesempatan kepada para Millenials untuk unjuk gigi mengenai keahlian mereka dan memberikan kesempatan pada Millenials untuk speak up ide dan pendapat pada saat diskusi berlangsung, selalu melibatkan mereka akan sangat banyak membantu perkembangan mereka dan memberikan apresiasi bagi mereka untuk eksis di lingkungan ia berada atau bekerja.

Generasi Tidak Sabaran.

Hidup di jaman serba instan dan cepat (tidak hanya untuk mi instan) membuat para Millenials membentuk pemikirian mereka jika segala sesuatunya harus berlangsung dengan cepat. Kegiatan sehari – hari seperti transaksi online, nonton video, mengerjakan tugas kuliah, pesan makanan, semuanya memang bisa serba cepat, tapi tidak dengan hubungan pertemenan dan karir. Pikiran serba instan ini menjadi bumerang karena mereka dengan cepat juga mengubah pikiran mereka dan memulai hal baru, bibit – bibit kutu loncat jika di dalam perusahaan, apalagi jika mereka merasa kebutuhan mereka tidak dipenuhi oleh perusahaan, tidak hanya dari sisi gaji, tapi juga tantangan dalam bekerja yang didapatkan.

Intinya, selalu memberikan mereka tantangan dalam bekerja untuk meningkatkan skills yang mereka miliki, selalu memberikan input untuk proses bekerja, karena bagi Millenials work hard play hard itu berlaku juga dalam bekerja.

Bekerja dengan para Millenials memang punya cerita unik dan menjadi tantangan tersendiri, tetapi mau tidak mau mereka juga menjadi bagian dari masa depan sebuah bangsa untuk terus maju dan berkembang. Dan jangan khawatir, para Millenials jika di jalur yang benar dan sesuai passion akan berkembang dengan sangat pesat dan bisa menjadi aset yang sangat berharga bagi perusahaan.

Author :

Merry Agnes Pangaribuan adalah mahasiswi BINUS University jurusan Teknik Informatika yang juga menjelma menjadi seorang traveller kelas irit yang cinta pada kegiatan ekstrim dan penulis pemula. Sangat tertarik untuk mempelajari berbagai hal khususnya dalam local and youth empowerment, sociopreneurship serta bentuk wirausaha pada umumnya,, upaya penyelematan lingkungan, dan pertanian. Saat ini, ia juga aktif mengurus beberapa organisasi non-profit yang bergerak di bidang youth empowerment, entrepreneurship, dan edukasi lingkungan seperti KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia), World Merit Jakarta, Indonesia Youth Academy, dan Indonesia Youth Conference. Contact : (+62)811-925-5050 / pangaribuanmap@gmail.com / @merrypangaribuan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *