Sudut Pandang : “Perspektif Antar Millennial”

Sudut Pandang : “Perspektif Antar Millennial”

https://slidemodel.com/templates/generations-comparison-powerpoint-template/

Generasi Millennial. Mungkin teman-teman dalam beberapa waktu dekat ini pernah mendengar istilah ini. Bisa dibilang istilah ini memang sedang diperbincangkan dan juga di bahas oleh beberapa kelompok mengenai eksistensi Milennial ini. Lalu, definisi dari generasi millennial itu apa sih ? Generasi Milennial bisa dibilang juga sebagai generasi Y. Merupakan generasi lanjutan dari generasi X yang kita kenal sebagai orang tua kita. Generasi Milennial ini terhitung mulai dari kelahiran anak-anak tahun 1980an sampai dengan 2000 dan sampai sekarang. Kenapa disebut millennial ? Karena generasi ini lahir pada masa dimana teknologi mulai berkembang. Definisi soal kehidupan pun sudah jauh berbeda. Mungkin ketika generasi X lahir, yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana bertumbuh dewasa, menjalankan apa yang harus di lakukan seperti bersosialisasi, bekerja, lalu menikah, dan menjalani hidup sebagaimana adanya. Tapi perkembangan dan perubahan zaman memberikan sentuhan yang sedikit berbeda kepada kehidupan, khusus nya kepada generasi kita ini. Hidup di era komunikasi ini membuat tuntutan dalam kehidupan semakin besar. Kalau dahulu sukses cukup di nilai dengan hanya juara kelas, memenangi suatu kontes, atau menciptakan suatu karya. Sekarang, hal-hal tersebut hanya bagian dari sebuah tujuan yang sebenarnya menyimpan tujuan-tujuan lain. Eksistensi di sosial media, Bagaimana sebuah kejadian bisa meningkatkan popularitas, hidup melawan arus untuk mencapai kesuksesan, dan masih banyak lagi hal yang terus berubah dibandingkan dengan apa yang orang-orang generasi X jalankan.

http://outlookaub.com/2017/02/14/the-mystery-of-the-millennials/

Secara umum generasi millennial akan hidup dalam lingkup perbedaan yang lebih besar, namun toleransi mereka terhadap perbedaan lebih tinggi. 24/7 hidup mereka akan dipengaruhi oleh gadget mereka. Social Media. Hal ini pun yang akan menjadi tolak ukur dan mempengaruhi semua keputusan mereka dalam menjalani hidup. Karena lewat hal ini hidup mereka akan dinilai. Yang menjadi perbedaan paling signifikan antara generasi X dan millennial adalah pola pikir. Kita hidup di zaman yang di kelilingi oleh teknologi, jadi sudah pasti pengaruh-pengaruh dalam perkembangan kehidupan kita bukan hanya dari orang tua atau orang-orang terdekat kita. Tapi pengaruh internet, bacaan kita sehari-sehari mengambil bagian yang cukup penting dalam pembentukan pribadi dan pola pikir-pikir para generasi millennial.

Pengalaman saya secara pribadi, saya mempunyai rekan di kantor yang sangat pendiam. Setiap hari nya hanya duduk di depan laptop nya, lalu mengerjakan pekerjaan sehari-hari dan sangat minim akan komunikasi. Tapi yang membuat saya kaget adalah ketika saya melihat social media nya, Instagram. Dirinya telah di ikuti kurang lebih 54.000 user Instagram dan sangat aktif. Ini lah yang terjadi dengan generasi sekarang. Kita tidak bisa menilai hanya dari satu sisi, dari satu keseharian, karena terkadang orang-orang saat ini seperti mempunyai kehidupan lain diluar dari kehidupan sehari-hari nya. Apakah ini sebuah hal yang cacat ? Atau menjadi sebuah masalah ? Kalau dari pandangan saya, jelas tidak. Menurut saya, setiap manusia hidup dengan cara nya mereka masing-masing. Bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan mereka dan mencari cara paling nyaman untuk menjalani hidup.

Pengalaman lain saya rasakan secara langsung. Dimana yang saya tahu pada masa dulu atasan adalah orang yang harus di takuti, atasan selalu benar, dan kita sebagai bawahan hanyalah melakukan job desc yang sudah di berikan. Hal ini membuat saya punya ketakutan tersendiri akan kata “bekerja”. Saya punya ketakutan untuk jadi kaku. Dimana harus datang sepagi mungkin, berlomba dengan absen, dan berpakaian rapi untuk mengejar karir. Hal itu yang terus menghantui saya karena saya merasa itu bukan kehidupan yang ingin saya jalani. Hingga akhirnya saya mengenal dunia startup dan e-commerce. Dunia yang mengubah pandangan saya soal bekerja, dunia yang memberikan warna lain pada generasi millennial dengan segala tingkah laku nya. Millennial butuh tantangan bukan rutinitas, millennial butuh inovasi bukan sekedar tunduk pada perintah. Dimana kita tidak perlu berpakaian rapi, sekedar datang pagi dan tak berkarya apa-apa. Saya menemukan keadaan dimana kita lebih banyak di minta pendapat dibanding sekedar mengerjakan arahan, kita diminta lebih banyak berpikir dan ber-ide dibanding hanya mengejar target. Hal itu lah yang saya rasa dibutuhkan oleh anak-anak saat ini. Bukan sekedar berorientasi pada uang melainkan tantangan.

Ketika ada di lingkungan ini, saya merasa bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Memiliki percakapan yang dalam dengan atasan atau pemilik perusahaan sudah jadi hal yang biasa malah bisa dilakukan sehari-hari. Bahkan saya seringkali melakukan perjalanan traveling dengan atasan saya yang memiliki hobi dan ketertarikan yang sama.

Generasi Milennial ini cukup menjadi perbincangan saat ini karena generasi X merasa terancam akan regenerasi dan penerus mereka yang akan melanjutkan hal-hal yang sudah mereka buat. Para Milennial ini dianggap belum mampu memangku tanggung jawab dan memegang kendali yang akan dihadirkan oleh mereka. Hal ini dinyatakan karena generasi millennial cenderung cepat putus asa, cepat bosan, mudah berubah-ubah mood nya, dan terkadang terlalu ambisius. Memang benar hal ini bisa menjadi suatu ancaman, tapi sadar tidak sadar perubahan seperti ini justru membawa kepada input dan output yang berbeda juga. Bagaimana menjadi sukses pun tidak menjadi suatu rumus yang pasti. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa mencapai kesuksesan dan itu sangat nyata di generasi saat ini. Dimana kalau dulu hanya yang terpelajar lah yang bisa sukses, sekarang dengan segala teknologi dan perkembangan yang ada, orang tak bersekolah pun mampu menjadi orang terkaya di dunia.

Lewat hal ini kita jadi mengetahui bahwa ada fenomena yang berubah dalam kehidupan. Mulai dari pola pikir, gaya hidup, dan mungkin akan ada poros-poros baru untuk mencapai hal-hal yang di inginkan. Kedepannya kita tidak lagi bekerja karena waktu yang ditukar uang, tapi lebih kepada tanggung jawab, kemampuan, dan profesionalitas. Akan ada banyak ribuan pekerjaan baru dengan titel specialist yang semakin mengerucut. Ada banyak hal yang akan muncul seiring dengan perkembangan personal pribadi para millennial ini. Tapi kita harus menyadari, bagaimanapun sikap seorang berubah dan keadaan dunia nya pun berubah, ada hal yang tak bisa tergantikan untuk kita menjalani kehidupan. Disiplin, jujur, dan konsisten. 3 hal ini yang akan selalu tetap ada untuk setiap kita bisa ada di atas.

Salam kepada generasi millennial dari si millennial!

 

Author :

Evan Sebastian – CEO Tarkam. Tarkam Apps merupakan aplikasi berbasis olahraga untuk mempertemukan tim yang sedang mencari lawan sparing dengan tim lain. Tim yang akan tanding ini akan bermain sesuai lokasi terdekat atau yang mereka pilih. Chief Executive Officer (CEO) Tarkam, Evan Sebastian, mengungkapkan bahwa tujuan utama aplikasi ini untuk menjadi wadah bagi para pemain amatir agar lebih maksimal mengembangkan skill mereka. Tarkam Apps fokus pada tiga kelompok utama pengguna yaitu pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan kisaran umur 13 sampai 17 tahun. Target kedua adalah mahasiswa dengan umur antara 18 dan 22 tahun, kemudian target ketiga adalah pengguna umum berumur 23 tahun ke atas. Seiring pertumbuhan pengguna, Evan berharap Tarkam Apps bisa menjadi database yang lengkap untuk tim futsal dan sepak bola. Termasuk data mengenai kemampuan masing-masing pemain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *