Millennials, Are We Trying Too Hard?

Millennials, Are We Trying Too Hard?

“Generasi millenials adalah generasi yang berani untuk speak up, ditambah kita hidup di era digital sehingga wadah untuk ber-kreasi pun semakin banyak, maka tidak heran jika semakin banyak anak muda yang mengeksplorasi potensi-potensi bisnis dan berkarya sejak dini. Karena dulu ilmu hanya bisa di dapat di sekolah dan pengalaman. Sekarang ilmu eksak pun bisa kita dapat di internet, mengikuti kelas bisa di tempat yang berbeda, online class, seminar semakin menjamur, maka tak heran jika kita sering melihat CEO muda, entrepreneur muda, pengusaha muda, dll. yang bedanya dari generasi lainnya adalah pengalaman, emosi, dan sudut pandang,. Namun marilah kita melihat ini dari sudut pandang positif, selain karena hidup di dunia digital, mental selalu ingin mencoba dan berani mengambil resiko lah yang membuat banyaj generasi millenials banyak yang sukses sejak dini.  Sehingga kalau ada yang menyebut ini generasi “Trying too hard”, yes, we’re trying so hard to be better, yes we’re trying so hard to succeed early, and yes we’re trying so hard to build Indonesia better.” – Marsya Gusman

You know what, I think you’re trying too hard” kata tersebutlah yang membuat saya pada masa SMA memutuskan impian saya. Dianggap trying too hard. Karena mencoba banyak hal dalam satu waktu, ingin sukses cepat, tidak terfokuskan. Tapi itu juga yang membuat saya sadar akan optimisme generasi millennials.

Teringat pada suatu masa dimana saya menjalani masa sekolah, saat itu saya mencoba mengikuti berbagai macam kegiatan, ekskul, berjualan pakaian di sekolah, mengikuti kompetisi menyanyi, modelling, band, mengikuti kegiatan osis dan lain lain. Hingga tidak semaksimal semula dalam bidang akademis. Terjadilah perdebatan antara saya dan orang tua saya mengenai apa yang sebenarnya saya mau. Saya bilang, “saya ingin lakukan semuanya, I wanna run faster, saya ingin saat saya lulus nanti saya sudah memiliki banyak pengalaman.” Kalau orang lain belajar secara Auditori dan Visual, I’m a Kinetic person, Saya harus melakukan untuk benar benar memahami sesuatu. Dan orang tua saya mengatakan saya harus memilih yang mana yang harus di prioritaskan, kita hanya punya 2 tangan, dan 24 jam dalam sehari, tidak bisa ingin semuanya, manusia pun butuh istirahat. Dan saat itu akhirnya saya memilih pendidikan. Hingga saya tinggalkan dunia entertainment yang dulu saya geluti dan berhasil membuktikan pada orang tua saya. Hingga akhirnya tibalah saatnya memilih jurusan.

Alhamdulillah saya terlahir di keluarga yang demokratis dimana saya di perbolehkan memilih hobi atau jurusan apa saja selama itu baik.  Kebetulan saat itu saya sekolah di salah satu sekolah semi-internasional yang menawarkan jurusan lain, Bukan IPA dan IPS, melainkan Physics, Biology, Humanities, Economics dan Arts. Hingga saya akhirnya mengambil jurusan Arts saat saya kelas 3 SMA, uniknya, saya mengambil jurusan itu hanya karena pernah mendengar pepatah yang mengatakan “creative people are adults who survived from their childhood”, padahal saya menyukai pelajaran bisnis, hanya saya tidak ingin kehilangan kreatifitas saya saat saya besar nanti. Segitu naifnya saya pada masa itu, dan segitu laparnya saya hingga di luar sekolah saya selalu membaca buku buku Bisnis yang saya beli menggunakan uang jajan saya sendiri. Sehingga waktu waktu kosong yang saya miliki bisa saya lakukan untuk mendapat ilmu tambahan, dengan optimisme untuk bisa memasuki kuliah jurusan business.  Beruntung pada saat itu saya juga mendirikan komunitas Sosial Pecinta Seni bersama anak anak muda kreatif di Indonesia, melihat mereka tumbuh berkembang, produktif dan mampu memberi impact pada sekitar. Merekalah yang membuat saya optimis dengan mimpi saya.

Waktu terus berjalan, saya bisa menjalani program Bachelor of Business di Melbourne Australia, padahal saat itu saya ingat salah satu guru saya sendiri mem-warning orang tua saya bahwa setelah saya menambil jurusan ARTS di masa SMA saya tidak akan bisa memasuki jurusan lain, hanya bisa menjadi Seniman. Ya memang bisa menjadi seniman berkelas internasional, seperti Pianis Internasional, Ballerina internasional, Composer, Pelukis, Penari, Art Director,dll. namun tetap seniman, karena masa SMA nya tidak di didik pelajaran-pelajaran lain. Sayangnya, pada saat itu ia tak tau yang saya lakukan di dalam gelap. Dan ayah saya pernah berkata, kita Sekolah bukan hanya sekedar mengejar ijasah, tapi pengalaman hidup. Mungkin benar apa yang di katakan guru saya pada saat itu, sayangnya saat itu saya haus ilmu, impian saya belajar ARTS adalah murni supaya nantinya ketika saya dewasa saya bisa membantu seniman seniman lain mempromosikan karyanya. Karena saya melihat banyak seniman di Indonesia yang hebat namun tak memiliki wadah atau belum mengerti cara mempromosikannya. Indonesia sendiri sebagian pada saat itu masih memandang sebelah mata para seniman. Saya ingin membuat wadah berkreasi para seniman di Indonesia, atau setidaknya membuat mereka semakin bangga dengan titel “pekerja seni”

Saat mengenyam pendidikan Business Management di Australia, saya coba maksimalkan untuk tidak tinggal disana hanya untuk berkuliah, tapi untuk mencari pengalaman sebanyak banyaknya, membangun networking yang luas yang mungkin nantinya berguna di masa depan. Dari ilmu yang saya dapat, saya coba untuk membuat komunitas wanita online bersama perempuan dari Negara lainnya yang passionate di bidang digital, membuat acara-acara yang Alhamdulillah bisa menambah uang jajan saya sendiri, hingga membangun network di bidang Food/Beverage, Entertainment, dan Fashion yang saya promosikan dalam membentuk personal branding nya. Saya sadar dari ilmu yang saya dapat, tak akan semudah ini jika saya tak mengerti Seni. Ditambah dari network yang saya dapat, saya lihat betapa di hargai nya pekerjaan pekerjaan lain. Betapa orang yang tidak terlalu bagus dalam pelajaran Matematika, Fisika, Kimia tetap bisa sukses dan dipandang di Negara lain. Saya tidak bilang di Negara ini seni kurang di apresiasi, tapi kita masih memiliki lebih potensi untuk mampu menjadi raja di negeri sendiri. Saat itu, tak ada satupun kata menyesal dari saya telah mengambil pendidikan Arts. untung pada saat itu saya “trying too hard” kalau tidak, saya tidak mungkin bisa mencapai titik ini.

Berkat Arts lah saya mampu melihat segala sesuatu nya dari sudut pandang berbeda, Berkat arts lah saya memiliki rasa empati, berkat arts lah saya memiliki ilmu performance art hingga bisa lebih teliti dalam membawa diri. tidak ada ilmu yang tidak baik. Seandainya di Indonesia ini kita dapat lebih mengapresiasi berbagai macam bentuk pelajaran dan mengerti serta meng-encourage mimpi-mimpi anak mudanya, saya yakin Indonesia bisa menjadi Negara yang semakin maju.

Generasi millenials adalah generasi yang berani untuk speak up, ditambah kita hidup di era digital sehingga wadah untuk ber-kreasi pun semakin banyak, maka tidak heran jika semakin banyak anak muda yang mengeksplorasi potensi-potensi bisnis dan berkarya sejak dini. Karena dulu ilmu hanya bisa di dapat di sekolah dan pengalaman. Sekarang ilmu eksak pun bisa kita dapat di internet, mengikuti kelas bisa di tempat yang berbeda, online class, seminar semakin menjamur, maka tak heran jika kita sering melihat CEO muda, entrepreneur muda, pengusaha muda, dll. yang bedanya dari generasi lainnya adalah pengalaman, emosi, dan sudut pandang,. Namun marilah kita melihat ini dari sudut pandang positif, selain karena hidup di dunia digital, mental selalu ingin mencoba dan berani mengambil resiko lah yang membuat banyaj generasi millenials banyak yang sukses sejak dini.  Sehingga kalau ada yang menyebut ini generasi “Trying too hard”, yes, we’re trying so hard to be better, yes we’re trying so hard to succeed early, and yes we’re trying so hard to build Indonesia better.

Author

Marsya Gusman is a digital marketer, musician and lifestyle writer based currently in Jakarta, Indonesia. Marsya is wearing multiple hats : Miss Earth Best Talent 2016, Miss Internet Jakarta 2017, Asean Delegate Digital Consultant and Content Creator. She is passionate about social, tech & arts and she shares her experiences through seminars and e-books. Follow her journey on instagram @marsyagusman or connect through https://www.linkedin.com/in/marsya-gusman-19184685/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *