Literasi Media Generasi Millennial di Era Media Sosial

Literasi Media Generasi Millennial di Era Media Sosial

RumahMillennials.com | Di era globalisasi dimana teknologi digital dapat diakses oleh hampir semua kalangan, informasi berkembang dengan pesat dan penyebarannya semakin cepat. Di era digital sekarang ini, media konvensional masih tetap eksis, namun telah ditinggalkan oleh generasi yang lahir di era digital, yaitu generasi Millennial.

Generasi millennial beralih pada media baru, dan penelitian mendapati bahwa mayoritas millennial mendapatkan berita bersumber dari media sosial seperti facebook dan twitter (dikutip dari How Millennials, 2015), dimana kredibilitas sumber berita sangat sulit untuk diukur. Popularitas media digital ini merupakan akibat dari mudahnya akses internet, dan penyajian informasi dalam bentuk yang lebih sederhana (dan juga menarik) dengan gaya bahasa yang ‘a la kadarnya,’ sehingga lebih mudah dicerna oleh generasi millennial yang lebih muda (orang – orang yang lahir pada tahun 1990 – 2000).

Bentuk berita yang disajikan juga bermacam – macam, mulai dari ciutan sepanjang 140 karakter sampai dengan visualisasi melalui platform video. Mudahnya akses informasi dan pemberitaan memiliki dampak positif yaitu mengedukasi dan meningkatkan kesadaran akan hal – hal yang terjadi di lingkungan sekitar sampai dengan lingkup dunia. Namun, kredibilitas informasi yang disediakan bisa saja bias dan dikarang oleh pihak – pihak tertentu yang berniat memprovokasi.

Sebuah contoh kasus yang terjadi pada masa kampanye pemilihan presiden Republik Indonesia tahun 2014. Akun twitter dengan nama pengguna triomacan2000 dengan ratusan ribu pengikut yang mayoritasnya adalah generasi millennial, menyebarkan informasi yang berbau black campaign mengenai salah satu calon presiden yang ternyata adalah hasil rekaan. Ciutan akun tersebut dengan cepat menjadi viral dan mendapat sorotan media nasional.

Penelitian lain menunjukkan bahwa generasi millennial cenderung malas untuk memvalidasi kebenaran berita yang mereka terima dan cenderung menerima informasi hanya dari satu sumber, yaitu media sosial.

Masih merupakan hal yang mustahil untuk menghitung seberapa banyak jumlah berita yang mengandung informasi palsu atau bahkan mengestimasikan jumlah yang tersebar secara online di media sosial. Karena media sosial merupakan forum publik gratis, semakin besar kemungkinan penyebaran informasi palsu, di luar konteks, dan tidak akurat.

Bagi generasi millennial untuk melindungi diri dari informasi yang tidak akurat, bersifat provokasi, pola perilaku penggunaan media harus dievaluasi dan diperbaiki.
Merupakan sebuah hal yang memalukan bagi kita, generasi yang lahir di era digital untuk jatuh pada informasi hoax yang bersumber dari opini satu orang ataupun berita viral yang tidak diketahui darimana berita bersumber.

Saat ini, untuk memvalidasi berita yang tersebar melalui media sosial cenderung sulit. Namun, kemudahan teknologi akan banyak membantu kita untuk membuktikan kebenaran sebuah informasi. Platform mesin pencari mempermudah kita untuk memperoleh informasi yang akurat, bahkan anda dapat memperoleh data hasil penelitan maupun jurnal yang dipublikasikan oleh lembaga – lembaga kredibel.

Tidak lagi menjadi alasan untuk mempercayai satu sumber berita karena sebagai generasi yang lahir di era digital, kita telah diberikan kemudahan untuk menjadi orang – orang yang “melek media” dan menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi yang disajikan kepada kita.

Ellysabeth Ratih Dwi Hapsari W.
(Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNDIP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *