Stereotip Generasi Millennial: Mitos vs Fakta

Stereotip Generasi Millennial: Mitos vs Fakta

Rumah Millennials.com | Orang – orang yang lahir antara tahun 1980 – 2000 disebut dengan generasi Millennial. Istilah millennial yang digunakan terdengar cukup keren, bukan? Sayangnya, dibalik istilah yang terdengar keren ini, banyak stereotip yang melekat pada generasi Millennial. Stereotip hanyalah cara pandang suatu kelompok terhadap kelompok lain, bukan berarti cara pandang tersebut sesuai dengan fakta yang terjadi. Lalu, apa saja stereotip yang melekat pada GenerasiMillennial yang sebenarnya berlawan dengan pandangan orang – orang dari generasi sebelumnya?

1. Generasi Millennial adalah generasi paling malas.
Media cenderung mengatakan bahwa generasi millennial adalah generasi malas, dimana orang – orang mengalami kecanduan terhadap internet dan cenderung beralasan untuk mendapatkan pekerjaan seminimal mungkin. Bahkan, majalah TIME pada tahun 2013 mengeluarkan sebuah edisi mengenai Generasi Millennial dengan cover bertuliskan “Millennials adalah pemalas, narsistis yang masih tinggal dengan orangtuanya.”.

Namun berlawan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh World Economic Forum. WEForum mendapatkan bahwa 24 persen dari pekerja yang berasal dari generasi Millennial adalah “pekerja martir,” pekerja yang memilih menggunakan waktu liburan mereka untuk bekerja, dan bekerja lebih dari jam yang telah dibebankan kepada mereka. Sedangkan pekerja martir dari generasi X di angka 19 persen dan baby boomers di angka 17 persen.

Kecanduan internet? Faktanya adalah internet banyak membantu generasi millennial dalam mencapai kesuksesan. Pada tahun 2013, seorang pemuda berusia 15 tahun bernama Jaylen Bledsoe menciptakan sebuah perusahaan start up yang bergerak di bidang pengembangan desain web dan pelayanan IT yang mencakup pasar global dengan nilai sekitar 3,5 juta USD dalam jangka waktu dua tahun.

Tyler Cowen, seorang profesor yang memiliki pengaruh di George Mason University mengatakan bahwa orang – orang yang lahir pada tahun 1980, yaitu generasi millennial, merupakan orang – orang yang memiliki keahlian di bidang teknologi akan menjadi pemain utama pada era baru yang digerakan oleh sektor digital.

2. Generasi Millennial cenderung apatis dan tidak kritis.
Ketika dihadapkan dengan isu politik, lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, generasi millennial adalah yang paling peka menanggapi isu – isu tersebut. Banyaknya kampanye yang diinisiasikan dan digerakkan oleh pemuda di seluruh dunia berkaitan dengan isu – isu tersebut. Demonstrasi mengenai pemilihan pemimpin di Hong Kong yang mendapat sorotan media dunia, merupakan inisiasi dari seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Joshua Wong.

Sebagai Warga Negara Indonesia, kita patut bangga terhadap Melati dan Isabel Wijsen, kakak beradik yang menginisiasikan gerakan pelarangan kantong plastik di Bali yang masih berusia di bangku sekolah. Mereka diundang oleh TED Conference, untuk menyampaikan ide kampanye mereka tentang Bali bebas sampah plastik di tahun 2018. Dari Indonesia sampai pada panggung dunia. Oleh Generasi Millennial. Dan masih banyak gerakan – gerakan yang diinisiasikan oleh pemuda generasi millennial untuk menanggapi isu – isu seperti organisasi kepemudaan AIESEC yang terdapat di 124 negara yang berkonsentrasi pada Sustainable Development Goals.

3. Generasi Millennial cenderung Suka Pamer
Memamerkan barang – barang mewah di media sosial mungkin adalah sebuah tindakan yang salah, namun apa salahnya untuk memamerkan kesuksesan dan prestasi yang diraih sebagai bentuk motivasi bagi orang lain? Tuntutan profesional saat ini semakin selektif dan kompetitif, pekerja (yang saat ini mayoritas merupakan generasi Millennial) juga menuntut mereka untuk semakin banyak memperoleh prestasi sebagai bukti bahwa mereka memiliki kompetensi yang memadai.

Generasi millennial tidak hanya bekerja keras untuk memamerkan prestasi di media sosial, namun juga untuk memenuhi tuntutan dunia profesional. Dan ketika seseorang memiliki segudang prestasi, media yang akan mengekspos prestasi mereka sebagai bahan berita.

Ellysabeth Ratih Dwi Hapsari W.
(Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNDIP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *